104 Pendidik Jatim Berguru di Sulsel

Sulsel, MC – Sebanyak 104 Pendidik Mojokerto, Blitar, Pamekasan, Situbondo, Madiun, dan Sidoarjo melakukan kunjungan belajar (study visit) ke Sulawe Selatan. Mereka terdiri dari guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan dan lingkup kementerian agama (Kemenag)..

Di antara mereka terdapat Kepala Dinas Pendidikan dari Kabupaten Madiun, Suhadi dan Kepala Dinas Situbondo, Fathurrohman. Mereka berkunjung ke beberapa sekolah di Sidrap, Parepare, Pinrang dan Maros.

Di Sidrap mereka berkunjung ke SMPN 1 Tellu Limpoe, di Pinrang ke SD 166 Mattiro Bulu, di Parepare ke SMPN 12 dan SDN 3, 12 dan 38, dan di Maros ke SMPN 4 Bantimurung dan MTs Allaritengae dan SDN 39 Kassi dan MIN Maros Baru (20-21/10)

Para kepala sekolah dan komite mengobservasi manajemen sekolah. Mereka menggali strategi mengelola program dan dana sekolah, bagaimana kepala sekolah melakukan pendampingan dan supervisi terhadap pembelajaran, dan apa yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan sumber dana untuk membiayai sekolahnya.

Sedang para guru mengamati proses pembelajaran PAKEM atau CTL di kelas, strategi pembelajaran, penataan ruang kelas, gaya mengajar guru, interaksi siswa dan guru dan sebagainya. Staf-staf dinas pendidikan dan kemenag mempelajari kebijakan-kebijakan dinas dan kemenag setempat dalam masalah pendidikan dan juga mempelajari manajamen berbasis sekolah dan pembelajarannya.

Di SMP I Tellu Limpoe Sidrap dan SMP 12 Parepare, para pendidik yang mengamati proses pembelajaran mengagumi moving class yang telah dipraktikkan di sekolah tersebut.

Ruang kelas dibagi berdasarkan mata pelajarannya. Setiap pindah mata pelajaran, anak-anak pindah ke kelas tempat mata pelajaran itu diajarkan dan bukan menetap di kelas menanti guru pelajaran masuk.

“Saya melihat dengan cara ini, kelas menjadi lebih mudah pembinaan dan pengawasannya. Guru mata pelajaran menjadi merasa lebih bertanggung jawab mengurus ruangan. Karya siswa juga menjadi lebih mudah pengaturannya dan lebih banyak. Saya akan mencoba mempraktikkan moving class seperti ini di sekolah kami,” lanjutnya.” kata pak Supriyanto dari MTs Jambewangi, Blitar mewakili teman-temannya.

Hal senada juga diungkap Nurkholis, Spesialis Pengembangan LPTK USAID PRIORITAS dari Jatim menyatakan bahwa model moving class belum dia temukan di Jawa Timur sehingga praktik di Sulawesi sangat menginspirasi untuk diterapkan di sana.

Di SD 166 Mattiro Bulu, sekolah yang juara tingkat provinsi dalam manajemen sekolah beberapa bulan lalu, para peserta mempelajari dan kagum dengan partisipasi dan kepedulian masyarakat yang begitu tinggi dengan sekolah, sehingga sekolah memiliki banyak sarana-prasarana bantuan dari masyarakat.

“Terdapat paguyuban wali siswa kelas yang membantu dalam proses-proses pembelajaran tiap kelas dan komite yang bersemangat membantu pencarian dana infrastruktur. Kecintaan masyarakat terhadap sekolah luar biasa. Hal ini patut kami terapkan di sekolah kami bagaimana membuat masyarakat bisa mencintai sekolah seperti ini,“ kata ibu Sariat, dari SDN 39 Sannong, Pamekasan Madura.

Sementara Bapak Luthfi, Kepala Sekolah SMP 5 Sidoarjo, melihat SMP 4 Maros sangat konsisten dalam penerapan kurikulum 2013, sehingga nampak banyak kreatifitas siswa terlihat di SMP tersebut.

“Saya melihat siswa-siswa kreatif menciptakan berbagai karya sekolah, semoga ke depan inovasi-inovasi banyak tercipta karena kreatifitas seperti itu,” ujarnya

Bapak Ashar Salam, kepala bidang kurikulum Dinas Pendidikan Maros, mewaikili Dinas Pendidikan menyatakan pemerintah Kabupaten Maros menyediakan dana Rp. 500 juta untuk mereplikasi program USAID PRIORITAS ke sekolah-sekolah di Maros yang belum mendapat program tersebut.

“Ini karena kami melihat perkembangan yang baik setelah melihat sekolah-sekolah yang dibina USAID PRIORITAS,” ujarnya.

Menurut pengamatannya Kepala Dinas Pendidikan dari Madiun Suhardi semua sekolah yang dikunjungi sudah menerapkan kurikulum 2013, terutama pendidikan karakter. “Ini bisa terlihat dari sambutan dan bagaimana mereka bersikap dan terutama kebersihan sekolah yang kami kunjungi,”

Rombongan kemudian pulang kembali ke Jatim setelah melakukan refleksi dan membuat rencana tindak lanjut.

(Sumber/Penulis : Mustajib)