50 Dosen Belajar Mengelola Sekolah

Parepare, MC – Jika  ingin menghasilkan anak didik yang bisa beradaptasi dengan dunia modern,  sekolah dituntut bisa mengelola dengan baik isu-isu kontekstual dan tuntutan kebutuhan-kebutuhan rill masyarakat yang mengitarinya.

Namun yang lebih penting, para dosen  pencetak para guru yang mengajar di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan) mestinya bisa  lebih jauh mengetahui dan lebih trampil mengelola isu tersebut dibanding dengan para guru. Jika mereka tidak memahaminya dan tidak mampu memberikan contoh bagaimana mengelolanya, maka  akan menurun pada guru yang dihasilkannya.

Diharapkan dengan dosen memahami pengelolaan sekolah dan isu-isu kontekstualitasnya,  akan terjadi kesesuaian antara apa yang diajarkan di perguruan tinggi pencetak guru dengan kebutuhan riil kapasitas yang harus dimiliki calon guru untuk mengelola sekolah.

Demikian disampaikan oleh Dr. Nensilianti, Spesialis Pengembangan LPTK USAID PRIORITAS dari UNM disela-sela pembukaan pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah  untuk para dosen di Hotel Delima Sari Parepare, beberapa waktu yang lalu. 

Pelatihan yang diikuti oleh 50 dosen dari tujuh perguruan tinggi ini akan berlangsung dua hari sampai hari senin. Tujuh perguruan tinggi yang dimaksud adalah Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Parepare, Universitas Cokroaminoto Palopo, STAIN Bone dan STAIN Palopo. 


Menurut Dr. Farida Ohan, Dosen UNM dan salah seorang fasilitator pelatihan, dosen-dosen pencetak guru dituntut bisa menyiapkan calon guru yang memiliki kemampuan  mengelola issu-issu aktual di sekolah.

“Pola-pola manajemen di sekolah musti juga diketahui oleh para dosen. Sepatutnya mereka tidak hanya mengajarkan mata pelajaran saja, seperti matematika, fisika, atau biologi. Mereka dituntut pula menstransfer pengetahuan bagaimana mengelola sekolah dengan baik, supaya para calon guru ketika sampai di sekolah sudah siap untuk benar-benar ikut menangani berbagai isu kekinian yang melanda sekolah,” ujarnya.

Para dosen ini diajak untuk mengidentifikasi berbagai peran kepala sekolah dalam pembelajaran aktif modern dan dalam berhubungan dengan masyarakat lewat komite sekolah. Mereka juga diajak bersimulasi menjadi kepala sekolah dan dihadapkan berbagai masalah yang terjadi di sekolah. Mereka ditantang untuk memecahkan kasus-kasus tersebut bersama-sama dalam diskusi.

Kasus yang disodorkan misalnya adalah bagaimana kepala sekolah menyikapi guru yang pulang dari pelatihan dan mustinya bisa menyebarkan hasil pelatihan itu kepada teman guru yang lain, bagaimana kepala sekolah mengelola pertemuan guru mata pelajaran yang monoton dan menghadapi guru yang suka mengeluh terhadap kebutuhan ATK? “Kasus- kasus demikian adalah beberapa contoh kasus riil yang sering dihadapi sekolah, yang juga harus dipahami  dosen,” ujar Farida Ohan.  

Selama dua hari tersebut, para dosen juga  difasilitasi untuk memahami berbagai issu seputar sekolah yang lebih mutakhir, seperti  isu kesadaran gender dan literasi. Mereka juga difasilitasi untuk mengetahui strategi-strategi mengelola isu mutakhir tersebut. 

“Litarasi menjadi masalah berat anak-anak didik kita. Kemampuan mereka memahami bacaan dan menghasilkan gagasan kreatif dari bacaan yang dibacanya sangat minim, bahkan di bawah negara-negara ASEAN. Guru-guru sekarang harus mampu mengatasi masalah ini, demikian juga para dosen sebagai pencetak guru,”  ujar Farida.

Dalam masalah gender, Farida juga berharap, pasca pelatihan ini,  para dosen bisa memfasilitasi  mahasiswa-mahasiswa calon gurunya  untuk bisa mengelola dan membuat strategi-strategi bagaimana mengarusutamakan kesadaran gender. “Agar juga dilakukan ketika mereka benar-benar jadi guru,” ujarnya.

Sumber : USAID PRIORITAS