Akhir Tahun, Bupati Wajo Resmikan Perusahaan Sabun Mandi

Bupati Wajo Resmikan Perusahaan Sabun MandiDidampingi oleh Markus Efendi, Perwakilan Dirjen Kemendes RI dan Kepala BPMPDK Wajo, Syamsul Bahri, Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru mengamati produk sabun mandi buatan masyarakat 3 desa di kecamatan Bola

Wajo, MC – Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru diakhir tahun 2015 ini, tepatnya pada hari Rabu, (30/12), meresmikan salah satu perusahaan hasil bentukan masyarakat tiga desa di Kecamatan Bola, Kabupaten Wajo.

Peresmian perusahaan yang diberi nama Bosowasi Mandiri ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru yang didampingi oleh Perwakilan Dirjen Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes, PDT),  Markus Efendi.

Perusahaan yang bergerak pada bidang industri sabun mandi, sabun cuci dan shampo ini diilhami dari program Usaha Bersama Komunitas (UBK) yang sebelumnya digelontarkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di kabupaten Wajo.

Kabupaten Wajo pada program UBK itu sendiri merupakan daerah percontohan dan satu-satunya kabupaten di Sulawesi Selatan yang dipercayakan oleh pemerintah pusat untuk melaksanakannya.

“Wajo adalah satu-satunya daerah di Sulsel yang dipercayakan untuk melaksanakan program ini. Bahkan melalui program UBK, masyarakat dari empat desa di Kecamatan Bola ini menjadi percontohan di Sulsel,” ujar Bupati Wajo dihadapan ratusan warga kecamatan Bola, Rabu, 30/12.

Program UBK seperti yang dimaksud, sambung Bupati, merupakan program pancingan pemerintah untuk membangkitkan kreatifitas masyarakat, menggerakkan minat kerja dan membuka usaha sendiri melalui perusahaan industri berbasis partisipasi, pemberdayaan dan kegotong royongan.

Namun demikian, masyarakat dalam menjalankan usaha tersebut, khususnya mereka yang terlibat dalam unsur pengelola dan atau masyarakat yang menanamkan saham agar kiranya menata perusahaan-nya dengan baik agar tetap berjalan dan berpenghasilan.

“Caranya bagaimana, tentu pengelola perusahaan dan masyarakat yang menanamkan saham harus proaktif melakukan promosi kepada masyarakat. Paling tidak, promosi dan penyebarluasan informasi tersebut dimulai dari keluarga terdekat,” saran Bupati.

Lanjut, Bupati mengungkap bahwa masyarakat kabupaten Wajo hingga saat ini masih membutuhkan lapangan kerja. Dengan adanya perusahaan yang dibangun dari program UBK tersebut, maka secara tidak langsung membuka ruang bagi masyarakat untuk bekerja dan berpenghasilan.

“Hanya saja, jika perusahaan yang dibentuk itu berjalan, pengelola diharap profesional dan menata perusahaan dengan baik, jangan sampai anggaran yang diterima dari pemerintah dan atau saham yang ditanam-kan oleh masyarakat disalah gunakan. Untuk itu saya sarankan kepada masyarakat untuk saling mengawasi, agar perusahaan yang dikelola tetap berkesinambungan dan tidak mati suri,” pungkas Bupati. (aci)