Bactiar Aly : Jokowi Diminta Maksimalkan Lawatan ke Timteng

Prof Aly Anggota Komisi I DPR-RI, Bachtiar Aly

Jakarta, MC – Lawatan Presiden Joko Widodo ke Timur Tengah, yang kini tengah berada di Qatar, diharapkan membawa dampak positif terhadap investasi ke dalam negeri. Negara yang dikenal sebagai penghasil minyak terbesar di dunia tersebut bisa dipastikan sebagai investor terbesar bagi Indonesia apabila presiden serius. Bukan hanya mendorong kerjasama bidang alutsista Pindad semata, presiden juga harus medorong investasi di bidang infrastruktur yang masif.

Demikian disampaikan anggota Komisi I Bachtiar Aly, Senin (14/9), usai mengikuti rapat tertutup Komisi I di Komplek Parlemen, Jakarta. Dia mengimbau Presiden untuk tidak terbuai dengan puja-puji sebagai negara muslim terbesar di dunia saja. Menurutnya, era politik diplomasi saat ini harus berasaskan kepentingan nasional yang besar seperti pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan sekarang ini.

Berdasarkan perkiraan yang dibuat oleh Bappenas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, total kebutuhan anggaran infrastruktur yang diperlukan selama lima tahun ke depan mencapai Rp 5.519 triliun. Angka yang tidak sedikit di tengah kemampuan Indonesia yang hanya menganggarkan Rp 313,5 triliun atau 8% dari total RAPBN 2016.

“Jangan hanya intermezzo saja. Kita jangan terjebak pada hal itu. Beliau harus berani membawa kepentingan Indonesia di Timur Tengah. Justru yang harus dikedepankan adalah bagaimana hubungan baik yang selama ini dibangun akan menghasilkan pembangunan infrastruktur,” tuturnya saat ditemui di sela-sela rapat Uji Kelayakan dan Kepatutan calon Duta Besar di Ruang Komisi.

Guru Besar UI ini juga melihat bahwa Uni Emirat Arab dan Qatar bisa menjadi kutub baru untuk investasi ke dalam negeri. Di tahun 2014 saja Uni Emirat Arab memiliki total investasi di Indonesia sebesar 25,365 juta dolar AS. Sedangkan total perdagangan Indonesia dengan UEA dan Qatar sebesar 5,93 miliar dolar AS.

Angka tersebut memang tidak sebesar total investasi Tiongkok di Indonesia yang sampai kuartal I tahun 2015 sebesar USD 75,1 juta. Walaupun ke depannya investasi dari negeri Tirai Bambu itu mungkin mengalami peningkatan, namun negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Qatar sangat berpotensi sebagai alternatif investor bagi pembangunan Indonesia

“Dalam pembangunan infrastruktur harus dioptimalkan ke Timur Tengah, jangan hanya kita tergantung ke Cina saja. Infrastruktur kan mahal, itu butuh pembiayaan besar,” ungkapnya.

Politisi NasDem ini juga mengapresiasi langkah Presiden yang mendorong industri alat pertahanan yakni alutsista dari PT. Pindad dalam kemitraan strategis dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Dengan begitu, reputasi Pindad sebagai produsen persenjataan akan meningkat dan semakin diperhitungkan.

“Saya mengapresiasi itu supaya industri alat dan persenjataan dalam negeri bisa kompetitif,” tutupnya

Sumber : Fraksi Nasdem DPR-RI