Baksos Gratis di RSUD Siwa Dipadati Akseptor

IMG_20151127_093127 Direktur RSUD Siwa, drg Hj Armin

Wajo, MC – Salah satu upaya pemerintah daerah kabupaten Wajo untuk menekan angka kehamilan pada Wanita Usia Subur (WUS) adalah dengan melakukan pengaturan kehamilan.

Pengaturan kehamilan yang dimaksud berupa pemeriksaan inveksi visual asam asesat (IVA), pemasangan MKJP (Implant) dan atau menggunakan oral KB jangka panjang berupa susuk/spiral.

Tindakan medis itu dinilai mumpuni, terlebih program itu digalakkan bersama oleh dua lembaga yang bergerak pada bidang kesehatan, yakni Dinas Kesehatan dan BKKBN.

Di Kabupaten Wajo, para Bidan menggerakkan program itu melalui kegiatan bakti sosial (baksos) secara gratis dalam rangkaian peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke 65 yang dipusatkan di RSUD Siwa, Selasa, 23/8.

IMG_20160823_115148Para calon pemasang (akseptor) kontrasepsi

Direktur RSUD Siwa, drg Hj Armin mengungkap baksos yang digelar berjalan dengan baik karena diikuti ratusan akseptor (calon pemasang). Bahkan, dalam pelaksanaanya, panitia penyelenggara melayani akseptor lebih banyak dibanding jumlah yang ditarget.

Untuk mendukung kegiatan itu, pihak RSUD Siwa menyiapkan 5 (lima) ruangan yang dilengkapi dengan konseling.

“Jumlah akseptor yang ikut dalam program tersebut cukup banyak, itu membuktikan bahwa para akseptor mulai menyadari akan arti pentingnya pengaturan masa kehamilan. Oleh itu kami memaksimalkan pelaksanaan baksos dengan harapan program yang dijalani bermanfaat dan bisa menekan angka kehamilan, khususnya bagi para wanita usia subur,” terang Armin.

Menguatkan keterangan Direktur Armin, panitia penyelenggara mengungkap baksos diikuti lebih dari 100 dari 30 orang akseptor yang ditargetkan. Ia menilai, peningkatan jumlah akseptor menjadi sinyal positif bahwa tingkat kepedulian wanita berumah tangga terhadap masa kehamilan sudah membaik,” tutur panitia yang diketahui bernama Hj Sumarni Harmin ini.

IMG_20160823_121336a Panitia penyelenggara Baksos

Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa akseptor yang dilayani dalam baksos, tidak semua dipasangkan susuk atau spiral (IUD) karena pertimbangan ukuran rahim. Begitupun akseptor yang teridentifikasi hamil juga tidak dipasangkan spiral, namun tetap menjalani pemeriksaan IVA.

“Pemeriksaan IVA itu sendiri hanya diperuntukkan bagi perempuan yang sudah menikah yang dibuktikan dengan identitas legal dari pemerintah setempat. Itupun sebelum penanganan para akseptor mendapat bimbingan melalui sosialisasi seputar penggunaan kontrasepsi,” jelas Hermin S, salah soerang panitia pemeriksa IVA.

Untuk diketahui, sosialisasi bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan serta penyuluhan mengenai kanker, selain itu sosialisasi juga dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam melakukan deteksi dini kanker melalui pemeriksaan IVA. Sasaran utama adalah Wanita Usia Subur (WUS) dan Pasangan Usia Subur (PUS). (Sultan)