Bugis – Makassar, Akankah Sepenuh-nya Dukung JK ?

Penulis : Nur Asri, SH (Pimred Media Celebes)

Wajo, MC – Geliat politik Pemilu presiden (Pilpres) periode 2014-2019 ini cukup alot, saking alot-nya, pesta demokrasi mencari pemimpin Republik ini tak kalah dengan Pemilu kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilu legislatif (Pileg).

Alot-nya persaingan Pilpres ini di-karenakan ranah dukungan cenderung di-mainkan oleh para elite politik papan atas yang secara konstan menyentuh jaringan struktur dan masyarakat di-tingkat akar rumput.

Laik-nya sebuah aliran listrik, paradigma perpolitikan tersebut memberi sentuhan energi ditengah masyarakat dan berujung menjadi penyulut dukungan kepada masing-masing pasangan calon.

Efek dari geliat politik papan atas tersebut, tak sedikit tokoh di-tingkat daerah memperlihat-kan eksistensi dukungan-nya, baik tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten.

Dukungan masing-masing terbagi, ada yang mendukung pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla dan adapula yang mendukung Prabowo Subiantoro – Hatta Radjasa bahkan banyak pula yang masih belum menentukan sikap karena menganggap kedua pasangan yang ditawarkan kurang klop.

Dari telisik kondisi tersebut, beberapa pandangan menganggap belum ada pasangan yang bisa memperoleh angka fantastis dalam sebuah daerah, kecuali daerah kelahiran masing-masing kandidat. Sementara untuk daerah lain-nya, ada prediksi suara akan terbagi, tergantung kemampuan kandidat melakukan penggalangan.

Seperti hal-nya di Sulawesi Selatan yang kental akan Jusuf Kalla Calon Wakil Presiden pasangan Joko Widodo (Joko Widodo). Sering muncul pertanyaan, Bugis – Makassar, akankah sepenuh-nya mendukung Jusuf Kalla (JK) ?.

Jawaban-nya sampai saat ini, berdasarkan hasil telusur, “Tidak sepenuh-nya”. Bugis – Makassar yang kental dengan JK, rupanya belum mampu menjadi barometer suara untuk JK.

Salah satu sampel-nya di Kabupaten Wajo, dukungan masyarakat kepada kedua Calon presiden dan Wakil presiden RI ini belum bisa terukur jelas.

Dukungan pasangan saingan JK, yakni Prabowo dan Hatta Radjasa disebut-sebut akan mendapat angka bersaing, tidak ada yang mampu menembus angka dominan nanti-nya bila dibiarkan berlarut tanpa kerja khusus.

Hal itu dapat diamati dari beberapa pendapat kalangan masyarakat awam dan politikus.
Contoh-nya, dukungan yang diungkap oleh salah seorang buruh bangunan. Sebut saja nama-nya Ali (55) suku asal Bugis. Dia menyatakan, akan memilih Prabowo pada hari H, 9 Juli nanti.

“Saya bersama keluarga memilih Prabowo, bukan Jokowi,” kata Ali kepada Media Celebes.

Lain hal-nya dengan salah seorang karyawan perusahaan ini, sebut saja nama-nya, Opu. Dia mengaku terpaksa memilih Jokowi karena faktor JK pasangan-nya.

“Saya pilih Jokowi bukan karena Jokowi-nya, melainkan karena Jusuf Kalla. Jadi apapun bentuk-nya, saya tetap di-pasangan ini karena faktor JK adalah sekampung kita,” terang Opu.

Begitupula, dengan pendapat dukungan dari para politikus partai di Kabupaten Wajo. Beberapa tokoh berpangaruh di Partai masing-masing telah menyatakan sikap untuk mendukung sesuai dengan arah keputusan koalisi.

Seperti Sumardi Arifin di PKB, Baso Oddang di PDI-P masing-masing mendukung pasangan Jokowi – JK. Begitupula dengan, H Nurman Dai Basri di Partai Golkar tetap mengikuti arah koalisi mendukung pasangan Prabowo – Hatta.

“Dukungan Golkar berkoalisi ke-Prabowo, maka-nya saya dukung Prabowo,” terang Nurman.

Dari beberapa pernyataan tersebut diatas, maka dapat ditarik simpul bahwa arah dukungan kepada masing-masing pasangan calon belum bisa diprediksi.

Dibutuhkan perlakukan khusus kepada pemilih untuk mencapai angka fantastis nanti-nya pada hari pemilu, dan siapapun yang berhasil melakukan pendekatan kepada pemilih, maka tentu akan berbuah perolehan suara yang baik pula, siapapun itu calon-nya. (*)