Bupati Paparkan Prinsip “Kemerdekaan Orang Wajo” Kepada Mahasiswa UNHAS

Bupati Wajo saat beri materi di Fisipol UNHAS Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru saat paparkan materi tentang penguatan kelembagaan dan kearifan lokal di UNHAS

Makassar, MC – Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru mengaku berpegang teguh pada pandangan hidup “Maradeka To Wajoe, Taro Pasoro Gauna, Naita Alena, Ade’nami Napopuang,” dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan di Bumi Lamaddukkelleng.

Warisan budaya leluhur yang berarti “Orang Wajo adalah Orang Merdeka, Setiap Tindakannya Disesuaikan dengan Aturan, Tahu Diri, Hanya Konstitusi/Hukum/Aturan yang Dipertuan,” ini bahkan disebut sebagai titian baginya dalam mengambil keputusan, menyelesaikan sengketa, atau mengatur dan mengendalikan arah kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.

“Dengan berpegang teguh pada pandangan hidup warisan budaya leluhur tersebut, maka saya bisa melaksanakan pemerintahan di tana Wajo (Kabupaten Wajo) dengan baik, aman dan tentram tanpa adanya gejolak atau gerakan berlebihan dari pihak manapun hingga saat ini (selama tujuh tahun lebih/periode kedua),” aku Bupati Wajo saat tampil menjadi pemateri dalam acara Seminar bertajuk “Penguatan Kelembagaan Pemerintah dan Kearifan Lokal dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan” di Aula Prof Syukur Abdullah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Jumat (4/3).

Prof A Syamsu Alam dan Bupati Wajo(Ketgam : Dekan FISIP UNHAS, Prof A Alimuddin Unde serahkan cenderamata kepada Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru)

Dijelaskan bahwa, kearifan lokal budaya leluhur tersebut juga berhasil menempatkan kehidupan masyarakat Wajo yang bebas berpendapat dan mencari nafkah, mengedepankan musyawarah mufakat dalam menghadapi dan mengatasi persoalan serta bertuturkata yang sopan, penuh tata krama dan beretika dalam kehidupan sosial.

“Maradeka to Wajoe, masyarakat Wajo bebas berpendapat dan mencari nafkah, Taro Pasoro Gau’na, kesepakatan antara pemimpin dengan yang dipimpin, menghadapi persoalan dan mengatasi pesoalan itu diputuskan melalui musyawarah mufakat. Makna itulah yang terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Wajo ini,” pungkas Burhanuddin.

Lanjut diterangkan bahwa dalam berpemerintahan, berpolitik dan bermasyarakat, pemerintah dan masyarakat Wajo juga kedepankan prinsip 3S (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge). Filosofi ini dipetik dari 3 fase pemerintahan di Wajo yakni ; Fase Pemerintahan Batara Wajo, Fase Arung Matoa Pertama (1) hingga Arung Matoa 14), serta Fase Arung Matoa 15 hingga Arung Matoa ke 45.

UNHAS 2(Ketgam : Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNHAS, Prof A Alimuddin Unde beri sambutan penerimaan kepada Bupati Wajo)

3S ini sendiri mengandung arti bahwa Setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk saling menghargai, saling bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap masalah (Sipakatau), Saling memuliakan, sekalipun beda status pangkat/kedudukan guna tercapainya keharmonisan dalam berinteraksi sosial (Sipakalebbi) dan Saling mengingatkan adalah sifat yang sangat terpuji karena setiap manusia tidak luput dari kehilafan dan kesalahan (Sipakainge).

“Itu kemudian mengakar dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di Tana Wajo, baik dalam berpemerintahan, berpolitik maupun dalam bermasyarakat,” ulas Burhanuddin.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNHAS, Prof Andi Syamsu Alam usai mendengar paparan Bupati Wajo mewacanakan untuk melakukan kajian ilmiah dan mengangkat materi tersebut sebagai bahagian dari mata perkuliahan FISIP UNHAS.

“Kami akan rangkumkan materi Kepemimpinan yang dibawakan oleh Bupati Wajo, kita akan lakukan kajian ilmiah dan mengangkat materi tersebut sebagai mata kuliah yang relevan dengan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Nanti kita bisa beri judul, Leadership of Bugis, Leadership of Wajo ataukah dengan penyebutan lain yang menggambarkan pola kepemimpinan Bupati Wajo (A Burhanuddin Unru, red),” tutur Prof Syamsu Alam.

Hadir mendampingi Bupati Wajo diantaranya, Sekda Wajo H Firdaus Perkesi, Kepala BPMPDK Wajo Syamsul Bahri, Kepala Dinas Sosial Wajo A Tenri Liweng, Kepala Dinas Pendidikan Wajo Jasman Juanda, Kepala BKDD Wajo H Amiruddin, Kepala Dinas Pertanian Wajo Putu Artana, Kepala Bappeda Wajo A Muslihin, Kabag Humas dan Protokol Wajo Hasri AS serta Camat Pitumpanua Andi Mamu.

Seminar itu diikuti pula oleh beberapa Profesor, Dosen dan ratusan Mahasiswa FISIP dan Mahasiswa Pertanian UNHAS. (SIPD)