Bupati Sebut Gerakan Lubangi Bumi Bukan Hal Baru di Wajo

IMG_20150823_091607Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru saat melakukan pencanangan biopori

Wajo, MC – Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru mengaku gerakan me-lubangi bumi untuk dijadikan wadah serapan air bukan hal baru di kabupaten Wajo.

Menurutnya, gerakan serupa telah diawali melalui program sejuta kantong air yang dicanangkan oleh-nya pada tanggal 25 Juni 2009 lalu.

Kala itu, sambungnya, pencangangan program multi fungsi ini dihadiri oleh Deputi VI Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Bupati dua periode ini mengurai bahwa program sejuta kantong air yang dimaksud diantaranya ; pembangunan dan pemanfaatan check DAM, pembuatan embung-embung, Bak penampungan air hujan, Sumur resapan dan Biopori sendiri.

“Jadi, untuk lubang penyimpanan air atau apapun penyebutan-nya, dirasa bukan hal baru, itu sudah digalakkan sejak pertama saya menjabat sebagai Bupati di Wajo, dan tentu manfaat dan tujuan yang ingin dicapai dari program tersebut berdampak positif terhadap lingkungan,” ujar Bupati disela acara pencanangan Gerakan Satu Juta Lubangi Bumi Simpan Air di kawasan hutan kota Stadion A Ninnong Jl Rusa Sengkang, pagi hati tadi, Minggu, 23/8.

Namun demikian, aku Bupati, gerakan melubangi bumi untuk simpan air seperti yang dicanangkan oleh Gubernur Sulsel bersama seluruh kabupaten/kota di Sulsel ini sangat tepat jika dikaitkan dengan kondisi alam dan pemanasan global yang terjadi.

Gerakan itu adalah gerakan penyadaran kepada seluruh masyarakat untuk bersikap peduli terhadap lingkungan dan tidak semaunya melakukan pengrusakan alam.

“Tentu kita semua ditempat ini mengerti akan kondisi yang terjadi saat ini, dimana pemanasan global menimbulkan perubahan iklim yang berdampak negatif terhadap kelestarian alam semesta,” ujar Bupati.

Sementara itu, kaitannya dengan kelestarian alam, tak jauh dari tempat acara, tepatnya sebelah timur stadion A Ninnong, aktivitas alat berat dan mobil pengangkut tanah semakin gencar mengeksploitasi lahan.

Bahkan dari hasil pantauan yang dilakukan, beberapa bukit dikawasan permukiman penduduk tersebut mulai rata  dan rencananya dijadikan sebagai lahan bisnis oleh pihak swasta.

Aktivitas  alat berat dan mobil pengangkut tanah itu-pun membuat warga mengeluh, pasalnya kendaraan yang melintas ditengah permukiman warga tersebut membawa kepulan debu dan membuat retak tembok rumah warga. (aci)