Bupati Wajo ; “Kalau Tidak Bisa Bahasa Indonesia, Bahasa Bugis Saja”

Bupati Wajo, Andi Burhanuddin Unru saat berdialog dengan warga (Foto : Hms)

Wajo, MC – Safari yang digelar pemerintah kabupaten Wajo ditingkat kecamatan selama bulan suci ramadhan menjadi ajang bagi warga untuk mendekatkan diri kepada pemerintahnya.

Laiknya sebuah kegiatan musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan), warga tidak sungkan meminta, mengajukan permohonan, ataupun mengusul gagasan demi untuk kelancaran usaha dan atau untuk pemenuhan kepentingan umum.

Namun jangan heran, keluwesan berbicara, mengusul bantuan atau mengungkap kendala yang dihadapi masyarakat, karena Bupati-nya yang bersikap wellcome (terbuka). Sampai-sampai Bupati ajarkan masyarakat untuk berani angkat bicara.

“Ayo berbicara, jangan takut, mau marah, mau mengkritik, mau meminta, mau mengusul, silakan saja, kalau tidak bisa bahasa indonesia, bahasa bugis saja”, ajak Bupati Wajo, Andi Burhanuddin Unru kepada ratusan tokoh masyarakat yang hadir dalam dialog di kecamatan Maniangpajo, Sabtu 3 Mei 2017.

Ia menuturkan bahwa dirinya tidak perlu banyak bicara (beri sambutan, red), karena keterbatasan waktu yang dimiliki jelang buka puasa.

“Jadi baiknya warga langsung saja, apa permasalahannya ungkap dalam dialog ini, tidak usah takut, baik itu dari kaum pria ataupun wanita, disini kita bebas berbicara, itu makanya saya ikutkan kepala dinas (OPD, red) untuk menjawab kendala yang dihadapi warga”, tutur Bupati.

Ajakan Bupati pun mendapat respon, dengan hanya sekira 45 menit waktu dialog, warga satu persatu mengungkap masalahnya.

Seperti yang dirangkum MEDIACELEBES dalam acara tersebut, warga mengajukan permohonan bantuan, mengusul program, mengungkap keluhan, bahkan ada yang mengkritik pemerintah.

“Begini Pung (penyebutan seseorang yang ditokohkan), kedepan kan memasuki musim rendengan, saatnya menanam padi, nah dengan itu kami memohon bantuan bibit ikan mas kepada pemerintah agar nantinya kami budidayakan dilahan persawahan kami. Begitupun dengan budidaya ikan di kolam, kalau bisa juga dibantu. Sebenarnya, untuk budidaya kolam sudah pernah kami usulkan, namun hingga saat ini belum terealialsasi”, ungkap warga.

Seketika itu permohonan warga disikapi oleh Bupati. “Kadis Perikanan mana, coba jawab usulan warga ini”, ujar Bupati kepada Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Wajo, Ir Nasfari yang saat itu hadir dalam acara.

Begitupun dengan warga lainnya, berharap agar dilakukan perbaikan jalan dan dipasangkan lampu penerang jalan dilingkungannya.

“Kalau tidak salah, jalanan itu sudah diperbaiki dua tahun lalu?, gimana rusak lagi ya?, tapi tidak apa-apa nanti akan diperbaiki, yang terpenting adalah bagaimana infrastruktur jalan tersebut dipergunakan oleh warga, kalau rusak ya kita perbaiki lagi”, ujar Bupati.

“Kalau lampu jalan saya rasa bisa dianggarkan melalui dana desa, bisa kan?, karena sebenarnya untuk lampu jalan itu ditanggung pembayarannya tiap bulan oleh pemerintah di PLN, tapi kalau memang mendesak nanti saya perintahkan dinas terkait untuk memasangnya”, tambah Bupati.

Selain beberapa usulan tersebut, Bupati juga menerima aspirasi terkait pembangunan pelataran pasar.

“Sekarang kondisinya rusak Pung, padahal kami secara rutin melakukan pembersihan dan nenata pelataran setiap hari jum’at. Namun, kami itu tidak bisa mendanai karena tiap pekan harus diperbaiki, oleh itu kami berharap kepada pemerintah untuk membangun pelataran tersebut”, harap pengurus pasar.

Sekedar informasi, dialog jelang buka puasa sudah menjadi kegiatan rutin pemerintah daerah, bahkan agar Bupati mendengar secara langsung keluhan warga, waktu yang tadinya dimanfaatkan untuk ceramah kultum (kuliah tujuh menit, red), diganti.

“Ceramahnya kan bisa di mesjid sebelum shalat tarwih, bukan tujuh menit lagi tapi sudah panjang-panjang ceramahnya, jadi kita ganti dengan dialog jelang buka puasa, moment seperti itu sangat tepat jika kita pergunakan untuk mendengar keluhan warga, bernilai ibadah juga kan?”, ulas Bupati ditempat terpisah. (Aci/MC)