Dinilai Ada Persamaan, Legislator Lutim Telisik Tatib dan Kode Etik DPRD Wajo

Wajo, MC – Anggota DPRD Luwu Timur (Lutim) bertandang ke Kabupaten Wajo. Kedatangan Legislator Lutim di bumi lamaddukkelleng ini untuk “berguru” tentang pembentukan Tata Tertib yang baru saja dirampungkan oleh DPRD Wajo.

Salah satu alasan Legislator Lutim memilih Kabupaten Wajo untuk berguru, karena pertimbangan filosofi, sejarah dan hubungan kekerabatan. Selain itu, sebahagian besar penduduk Lutim adalah penduduk asal Kabupaten Wajo.

“Kami memilih Kabupaten Wajo karena di daerah kami banyak orang Bugis asal Wajo yang bertempat tinggal dan menetap menjadi penduduk. Sehingga, tidak menutup kemungkinan, Wajo dan Lutim memiliki persamaan. Pertimbangan itulah sehingga kami kesini mempelajari metode pembentukan tata tertib dan kode etik DPRD untuk nantinya kami manfaatkan dalam pembentukan Tata tertib dan Kode Etik kami di Lutim,” ungkap Wakil Ketua Sementara DPRD Lutim, Muhammad Sidik, dalam acara penerimaan kunjungan di Gedung DPRD Wajo, Rabu, 15/10.

Tidak itu saja, lanjut Sidik, kedatangan anggota DPRD Lutim ke Wajo juga bertujuan untuk mempererat hubungan silaturahmi dan kekerabatan.

Menurutnya, penduduk Lutim dan Wajo tidak terpisahkan, baik dari pertimbangan sejarah maupun hubungan keturunan. Dan tak dipungkiri bahwa penduduk Wajo sudah banyak yang berdomisili di Lutim.

Ketua Fraksi PDI-P, DPRD Wajo, Baso Oddang mengurai, kunjungan DPRD Lutim di Kabupaten Wajo sangat bermanfaat. Dimana melalui pertemuan itu, hubungan antara DPRD Wajo dan Lutim akan semakin erat.

Diakui memang, lanjut Oddang, orang Wajo banyak berdomisili di Lutim. Bahkan, sudah banyak orang Bugis Wajo yang menetap, bekerja dan berpenghasilan di Lutim.

Berbicara tentang Tatib dan Kode Etik yang telah dibentuk, DPRD Wajo kemungkinan besar adalah lembaga yang paling cepat menyelesaikannya di Indonesia.

“DPRD Wajo mungkin yang tercepat menyelesaikan Pembentukan Tatib dan Kode Etik ini. Pembahasannya tetap merujuk pada Undang-undang MD3 dan PP 16 yang pendekatannya mengacuh pada pertimbangan agama, budaya dan kearifan lokal Wajo,” terang Oddang.

(Penulis : Nur Asri, SH)