Fenomena Tansgender dan Cara Mengatasinya

Andhis UI Oleh : Nabilla Dhisti Priyasdamaranti

Manusia diciptakan secara berpasangan yakni laki-laki dan perempuan, kedua jenis kelamin tersebut berlaku secara universal di seluruh dunia. Namun kenyataannya terdapat sebuah kelompok yang bisa dibilang tidak masuk kedalam kelompok laki-laki atau perempuan seutuhnya, mereka adalah transgender.

Transgender dan transeksual adalah dua hal yang berbeda, transeksual adalah orang yang merubah kelaminnya menjadi seperti lawan jenis sedangkan transgender adalah kondisi seseorang yang merasa penampilan fisik dan naluri gender yang ia miliki tidak sesuai. Seorang transgender merasa bahwa dirinya adalah perempuan yang terjebak di dalam tubuh laki-laki atau sebaliknya.

Kondisi dimana seseorang merasa bingung atau merasa tidak cocok terhadap identitas gendernya disebut disporia gender.

Caitlyn Jenner, seorang mantan atlet yang memutuskan untuk berubah menjadi wanita di usia 65 tahun mengungkapkan bahwa ia merasa terjebak di dalam tubuhnya sendiri. Jenner merasakan ada yang aneh dalam dirinya sejak kecil. Ia senang memakai pakaian ibu dan kakaknya secara diam diam dan hal tersebut membuatnya merasa nyaman. Hal serupa juga diungkapkan oleh Denna Rachman, mantan artis cilik yang juga merupakan seorang transgender.

Sejak kecil Dena merasa bahwa dirinya feminim dan ia merasa tidak nyaman menjadi seorang laki-laki. Perasaan tidak nyaman tersebut berlangsung secara terus menerus sampai akhirnya ia memutuskan untuk merubah penampilannya saat duduk di bangku kuliah.

Penyebab seseorang mengalami disporia gender masih belum diketahui secara pasti. Terdapat banyak teori yang mencoba menjelaskan penyebab fenomena ini namun belum ada yang terbukti secara pasti. Dr John Money, seorang psikologis dan sexologis dari John Hopkins University pada tahun 1950an mengembangkan teori bahwa identitas gender seorang anak terbentuk dari pola asuhan dan lingkungan.

Money percaya bahwa otak manusia saat lahir seperti sebuah kanvas kosong sehingga identitas gender seseorang dapat di modifikasi dengan pemberian hormon dan pola asuh yang sesuai.

Selanjutnya pada tahun 1997 Milton Diamond, seorang profesor dari University of Hawaii melakukan sebuah penelitian terhadap seorang anak laki-laki yang diubah kelaminnya menjadi perempuan dan dibesarkan selayaknya perempuan sejak lahir.

Dari penelitian tersebut terungkap bahwa seiring berjalannya waktu, walaupun ia diperlakukan selayaknya perempuan sejak kecil namun naluri laki-laki anak tersebut tetap muncul dan pada akhirnya anak tersebut memutuskan untuk kembali menjadi laki-laki pada saat ia beranjak dewasa.

Penelitian yang dilakukan Diamond memberikan kesimpulan bahwa identitas gender adalah hal biologis yang dimiliki sejak lahir. Penelitian lain yang dilakukan tahun 2008 dan melibatkan 112 transgender laki-laki menjadi perempuan menunjukan bahwa mereka memiliki rantai reseptor androgen yang lebih panjang pada gen mereka. Hal tersebut menyebabkan sinyal testosteron yang merupakan hormon esensial pada laki-laki menjadi lemah dan kurang efisien.

Namun peneliti mengungkapkan bahwa faktor genetik tersebut tidak berlaku untuk semua transgender karena masih terdapat faktor lain yang berpengaruh sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Dr. Paul R. McHugh dalam jurnal yang dirilis di Wall Street Journal edisi 13 Juni 2014. Dalam jurnal tersebut McHugh menyatakan bahwa transgender adalah penyakit kejiwaan sama seperti penderita anorexia yang memandang dirinya gemuk padahal kenyataannya tidak.

Selanjutnya McHugh juga memaparkan sebuah studi yang dilakukan oleh Vanderbilt University dan London’s Portman Clinic menunjukan bahwa 70-80% anak yang memiliki kecenderungan trangender akan kehilangan perasaan tersebut seiring dengan berjalannya waktu. Penyataan Mchugh bahwa transgender merupakan masalah kejiwaan juga didukung oleh Dr. Joseph Berger, seorang psikiater asal Kanada. Berger menyatakan bahwa cara terbaik untuk menolong orang yang mengalani disporia gender adalah dengan memperbaiki pikiran mereka bukan dengan mengubah kelamin.

Beliau juga menambahkan bahwa membantu orang untuk merubah kelaminnya sama dengan membantu mereka untuk mengembangkan penyakit kejiwaan yang mereka miliki menjadi semakin parah.

Dari uraian diatas terdapat dua pandangan yang berbeda mengenai penyebab fenomena transgender namun keduanya masih menjadi perdebatan. Terlepas dari penyebabnya yang masih pro kontra, transgender merupakan sebuah fenomena yang membuat penderitanya merasa tertekan dan tidak nyaman.

Oleh karena itu, seorang transgender memerlukan dukungan serta bimbingan dari keluarga dan lingkungan agar ia dapat menentukan apa yang terbaik untuk dirinya karena setiap orang berhak untuk hidup dengan damai dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Apabila anda merasa memiliki dorongan untuk menjadi seperti lawan jenis sebaiknya anda mencari tahu terlebih dahulu darimana keinginan tersebut berasal dan sejak kapan anda mulai merasakannya. Selanjutnya, coba konsultasi lebih lanjut kepada para ahli untuk menentukan keputusan apa yang sebaiknya diambil. Pada anak remaja dibawah 18 tahun, pengobatan yang diambil lebih dianjurkan melalui pendekatan psikologis seperti konseling, dukungan orang tua, dan psikoterapi. Apabila keinginan tersebut berlangsung secara terus menerus hingga beranjak dewasa, tindakan yang lebih ekstrem dapat dilakukan seperti terapi hormon dan oprasi pergantian kelamin.

Cobalah terbuka terhadap kondisi anda dan carilah dukungan dari orang-orang terdekat untuk membantu anda mengatasi disporia gender yang anda alami.

Data Diri Penulis :

Nama : Nabilla Dhisti Priyasdamaranti
Instansi : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
Email : nabilladhisti@gmail.com
Twiiter : @nabilladhisti