Gubernur Syahrul Bangga Kepada Bupati Wajo, Ini Penggalan Kalimatnya

gubernur-terima-penghargaan-kementerian-hukum-dan-hamGubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo

“Salah satu syarat untuk mau maju, berkembang, dan makin baik kehidupan itu adalah ketika kita bersatu, kompak, dan kalau mau bersatu paling tidak harus diantara kita mau saling peduli, saling peduli itu ada yang enak kita baku bagi, ada yang sedih kita bisa menangis bersama,”.

Demikian Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengawali sambutannya saat hadir dalam acara halal bihalal pemerintah dan tokoh masyarakat serta para guru se Kabupaten Wajo di Halaman Rujab Bupati, Rabu, 10/8.

Ia menuturkan, “Sipakatau – Sipakalebbi, Sipatuo – Sipatokkong, Malilu – Sipakainge” itu tanda-tanda kita perduli. Kita sudah tahu kalau mau maju harus bersatu, kalau mau-ki tidak makin maju, paling tidak star, jangan-maki bersatu, gaduh saja. Dan orang yang saling peduli (siapakatau – sipakalebbi) itu akan mengundang perasaan-perasaan dimana tidak berjalan sendiri, dan itu bisa jadi perbandingan bagi sebuah kemajuan daerah, bagi saya yang sudah pengalaman mulai dari kepala desa, lurah, camat dan semua yang lain.

Lihatlah kekompakan disini, kelihatan sekali daerah yang kompak pasti kemajuannya makin baik, karena kekompakan dan silaturahmi, apapun namanya, halal bihalal itu orang yang bisa kompak, orang yang hatinya bisa saling memaafkan, kalau ada yang salah, kita kan manusia biasa, diantara itu juga kalau kita mau memaafkan, saatnya saling menerima, dan tiba saat kita saling memperbaiki, tidak saling melukai, tidak saling mengabaikan, dan ini sifat-sifatnya kita orang bugis, orang makassar, orang toraja, orang luwu.

“Padaidi – Padaelo, Sipatuo – Sipatokkong” itu adalah care, peduli, merasa senasib sepenanggungan itu akhirnya membuahkan gotong royong, kita saling sayang menyayangi, kita saling menghargai, kita saling baku dorong naik, tidak baku tarik turun, dan itu sifatnya orang bugis, itu sifatnya orang makassar, orang bagus di-bilang, makanya dimanapun dia ada, soal itu selalu ada.

Kalau ini hadir, maka tolong menolong itu terjadi, dia sharing, kalau saya punya – saya tidak mau makan sendiri, kalau saya gubernur – saya tidak mentang-mentang jadi seorang gubernur, selalu saja saya mengingat persaudaraan.

Ada kalanya kita bagi, caranya baku bagi adalah kita membuka ruang yang seluas-luasnya untuk semua profesi, agar bisa berjalan dengan baik, aman, damai, lancar dan teratur, yang guru tugasmu laksanakan yang baik, pak camat ingat persis tugasnya pemerintah, menjaga dan melindungi rakyat, yang kepala desa urusi tidak boleh tidur nyenyak kalau rakyatmu bersuara, gubernur apalagi, bupati apalagi, kepala dinas memang tugasnya adalah membawa kehidupan yang ada agar bisa besok dirasakan manfaatnya bagi rakyat.

Kalau begitu, halal bihalal membawa kebersamaan kita mulai peduli dan makin peduli, kemudian dari sana datanglah kegotong-royongan yang kuat dan diantara kita tidak boleh saling benci, saling tuduh, dan sebagainya, tidak boleh saling mencari hak-hak, tidak boleh saling mengabaikan dari apa yang ada dalam diri kita, ingat tidak selamanya kita jadi siapa, kita semua sama.

Kalau jabatan, daki-daki besok hilang, yang tinggal itu persaudaraan, orang makassar bilang “lampako jama-jamang, lampako bakka, lampakko barang-barang, mannangko to sarribattang,” boleh pangkat hilang, boleh jabatan hilang, boleh segalanya hilang, materi boleh hilang, tapi jaga persahabatan dan persaudaraan karena itu yang harusnya tinggal selamanya.

Halal bihalal saya kira seperti itu karena kita mau lihat Wajo makin maju, rahmat Allah luar biasa bagi daerah ini, disini ada gas, semua tempat bisa ditanami, kita tinggal ambil ikan dimana kita mau, kita bisa be-ternak apa saja karena matahari terus bersinar, hujan-nya Tuhan turun, air ada diamana-mana, kalau begitu kita butuhkan semangat kebersamaan, dan semangat kebersamaan hanya bisa rusak kalau sudah saling mendustai diantara kita terjadi, saling berkhianat diantara kita terjadi, tidak ada yang normatif lagi dan ada dusta dibaliknya.

Kalau begitu halal bihalal membuat kita punya dusta hilang, tiada dusta diantara kita lagi, yang ada apa yang bisa saya bantu-ki sepanjang tidak melanggar aturan, dan kebaikan yang ada mari kita wujudkan bersama.

Yakin seyakin-yakinnya kapan kebersamaan bisa terbungkus dengan baik dalam seluruh aktivitas yang ada dimanapun itu dan kebersamaan itu dibungkus dengan ketulusan, keihklasan yang ada, keterpanggilan atas nama persaudaraan dan kebersamaan, maka saya yakin persis itu-pi na-bilang hidup berberkah, saya yakin persis kalau itu ada, memberatkan itu, mungkin sedikit porsinya tapi berberkah.

Kalau berkah Allah turun, dari hasil ketulusan dan kebaikan yang telah kita lakukan, taburkan itu dimanapun profesi kita, dimanapun tugas kita, bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang beribadah, kita yakin Tuhan memperjelaskan kita.

Dalam berpolitik, yang ada adalah seorang politisi yang tahu moral, bermoral itu berarti, kita tidak menggugurkan kekuasaan atas nama sebuah kepentingan yang merugikan orang lain, tidak. Berpolitik bermoral itu adalah kita menjaga moral-ta tuk dijunjung, dan tidak me-lacurkan diri anda tuk sebuah jabatan, tidak. Tapi menggugurkan jabatan itu kalau memang Tuhan menghendaki.

Mari kita saling peduli, mari kita tolong menolong, mudah-mudahan orang yang hebat diberi umur panjang, tidak ada orang yang hanya punya kecerdasan tapi tidak punya hati, tidak ada orang yang boleh punya kekuasaan tapi tidak punya empati, empati itu perasaan, tidak boleh, kalau itu ada suatu saat kita akan menuai badai, dan menyerempet kita menjadi satu.

Bersyukurlah kepada Allah pada setiap pertemuan-pertemuan yang baik ini akan memberikan kemampuan kita bergerak lebih baik, dan dijadikan kemuliaan disisi-Nya.

Oleh karena itu kedatangan bapak-bapak sekalian ibu sekalian saya hargai, izinkan saya atas nama pribadi dan semua yang hadir dari makassar untuk menuai keikhlasan, terima kasih bapak Bupati aku bangga banget hari ini, banyak orang Wajo yang saya lihat dan mereka makin cantik-cantik dan gagah-gagah.

Kalau dia cantik-cantik dan gagah-gagah itu tandanya ekonomi di Wajo makin maju, betul?, itu kan namanya kebersamaan diummat-kan, itu tandanya Wajo makin mampu menghadirkan gerak-gerak ekonomi rakyat dan perlindungan ekonomi rakyat, jaga ini kedepan, jaga.

“Kami, saya dan Pak Bur tentu saja suatu saat akan berakhir dari jabatannya, tapi yang hebat itu, bahwa setiap pergantian tidak boleh mencontoh orang lain yang harus gaduh dan kacau, tanda-tanda orang yang beriman itu harus bisa mengantar sesuatu bagaikan sebuah pesawat yang terbang membumbung tinggi,” kata Syahrul. (Red/MC)

(Maaf, tidak untuk dicopy sebahagian atau keseluruhan isi tanpa se-izin redaksi, terima kasih)