Imbas Devaluasi Yuan, Pemerintah Harus Waspadai Gejolak Geopolitik

IMG_3865 Anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo

Jakarta – Gelombang kehebohan fiskal akibat Tiongkok yang mendevaluasi mata uangnya nampaknya belum akan kunjung berakhir. Setelah terakhir melakukan devaluasi di tahun 1994, devaluasi yang dilakukan People’s Bank of China (POBC) saat ini cukup memberi tekanan kuat pada perekonomian dunia.

Tidak terkecuali Indonesia. Rupiah yang sebelumnya telah mengalami tekanan akibat “dollar pulang kampung” semakin tertekan dengan devaluasi yang dilakukan China.

Terkait kondisi ini, anggota Komisi XI DPR RI Donny Imam Priambodo menilai apa yang dilakukan Tiongkok saat ini semata-mata untuk meningkatkan nilai perdagangan dalam negerinya terhadap pertarungan global. Hal ini terkait melemahnya perekonomian di Negara itu sendiri.

Namun demikian, Donny yang pernah menjadi menjabat direktur pada perusahaan investasi ini meyakini, devaluasi yang dilakukan Tiongkok ada kaitannya juga dengan rencana IMF yang akan menyandingkan yuan sebagai reserves currency (nilai tukar) dunia selain US dollar.

“Devaluasi Yuan ini sesuatu yang spesial karena berkaitan dengan rencana IMF untuk menyandingkan yuan sebagai reserves currency dunia selain US dollar.” ujarnya, Jumat (21/8).

Menurutnya, rencana IMF ini berpotensi mengubah situasi geopolitik dunia. Dia memberikan ilustrasi di mana saat ini dollar menguasai 62 persen pasar dunia, disusul oleh euro-Eropa dan yen-Jepang. Konfigurasi inilah yang akan berubah jika yuan benar menjadi reserves currency dunia.

Kondisi yang demikian inilah yang menurut Donny perlu diwaspadai oleh pemerintah saat ini. Bukan sekedar pelemahan ekonomi sesaat saja, namun juga potensi perubahan konfigurasi geopolitik-ekonomi asia dan dunia.

Rencana IMF ini, di satu sisi membuka kemungkinan negara di dunia untuk menggunakan yuan sebagai alat pembayaran transaksi internasional. Konsekuensinya, terbuka peluang besar bagi dollar untuk benar-benar “pulang kampong” dan habis dipasaran.

Kondisi ini tentu patut menjadi perhatian serius pemerintah. Dia mengingatkan bahwa hutang-hutang Indonesia sampai saat ini masih dalam bentuk dollar. Hal ini bisa membahayakan perekonomian Indonesia.

“Jangan sampai dollar ini habis di pasaran, karena hutang kita dalam US dollar, ini bisa meningkatkan nilainya,” jelas mantan Ketua Kerja Sama Indonesia-Korea Jawa Barat 2006-2011 ini.

Oleh karena itu, Donny mengatakan, dalam waktu dekat pemerintah perlu melakukan langkah-langkah strategis mengatasi tekanan dari yuan ini.

“Harus ada terobosan inovatif , bagaimana menarik investor besar datang ke Indonesia. Hanya itu jalannya, nggak ada yang lain yang bisa kita perbuat! Karena ekspor kita juga melemah,” tegasnya.

Selain itu, dia juga mewanti-wanti pemerintah untuk mewaspadai banjirnya produk Tiongkok ke Indonesia. Di saat ekonomi sektor riil Indonesia yang semakin tertekan, semestinya pemerintah perlu berhati-hati apabila ada gejala membanjirnya produk negara tersebut ke Indonesia.

“Tentunya yang perlu diwaspadai oleh Indonesia adalah kebanjiran barang-barang dari China, karena apa? Otomatis harganya akan jauh lebih murah. Sekarang saja China sudah merajai pasar Indonesia, apalagi sekarang (yuan) diturunkan,” ujarnya mengakhiri. (red)

Sumber : Fraksi NasDem DPR-RI