Indonesia Galau Hadapi El-Nino, Petani di Wajo Sibuk Gelar Panen

Panen Raya Padi Kec Tanasitolo Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru bersama Dandim 1406 Wajo saat mengikuti panen raya padi di kecamatan Tanasitolo

Wajo, MC -Ditengah kegalauan pemerintah pusat akan dampak kemarau serta el-nino terhadap produksi pertanian di Indonesia seperti saat ini, petani di kabupaten Wajo malah sibuk melakukan panen raya.

Kondisi dimana iklim tidak mendukung sektor pertanian seperti yang dialami beberapa daerah lumbung pangan nasional sepertinya tidak berpengaruh di kabupaten Wajo.

Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru menilai, itu sebuah keberhasilan pemerintah dan petani di Wajo dalam pertanian.

“Itu sebuah keberhasilan bagi kami, ditengah kemarau serta dampak el-nino yang mendera saat ini, petani kita di Wajo malah sibuk memanen. Beda dengan beberapa daerah yang disebut-sebut sebagai lumbung pangan nasional, mereka terancam gagal panen pada musim tanam tahun ini,” ujar Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru dalam acara panen raya padi yang dilaksanakan di kecamatan Tanasitolo, Sabtu, 5/9 kemarin.

Lanjut, keberhasilan dalam bidang pertanian di Wajo tidak terlepas dari dukungan prasarana dan sarana pertanian serta ketersediaan infrastruktur yang sebelumnya dilakukan oleh pemerintah.

“Dari ketersediaan prasarana dan sarana pertanian itulah yang memudahkan petani mengolah lahan dan melakukan penanaman secara tepat dan terpola, dan hasilnya dapat kita saksikan saat ini,” ulas Bupati.

Ketersediaan prasarana dan sarana pertanian yang dimaksud itu diantaranya ; penyaluran bantuan handtraktor bersubsidi kepada para petani, pembuatan embung-embung, perintisan pengairan dan irigasi, penyediaan pompanisasi dan beberapa infrastruktur lainnya yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan petani.

Selain itu, kata Bupati, keberhasilan pertanian di Wajo juga didukung dengan penetapan masa tanam yang tepat serta adanya pendampingan dari para penyuluh pertanian dan Babinsa TNI.

“Petani di Wajo lebih dulu mengolah dan melakukan penanaman, sehingga pada saat kemarau tanaman padi di kabupaten Wajo justru siap panen. Beda dengan beberapa daerah lain-nya di Indonesia,” terang Bupati.

Namun demikian, lanjutnya, dengan segala keberhasilan yang diperoleh, petani di kabupaten Wajo masih membutuhkan tambahan peralatan pengolah lahan, khususnya ketersediaan handtraktor (traktor tangan).

Jika dihitung-hitung, dari 100ribu hektare lebih luas lahan di kabupaten Wajo, masih dibutuhkan sekitar 8ribu unit handtraktor untuk dipergunakan mengolah lahan.

“Hingga saat ini pemerintah baru menyalurkan sekitar 2ribu unit handtraktor kepada masyarakat secara subsidi, padahal kalau dicermati, dengan peralatan itulah sehingga petani di kabupaten Wajo mampu melakukan panen ditengah kemarau seperti saat ini,” pungkas Bupati. (aci)