Inilah Profil Jusuf Kalla, Cawapres Jokowi

Jakarta – Darah politik dan bisnis Jusuf Kalla atau yang akrab disapa JK sudah tampak sejak masih duduk di bangku kuliah.Berbagai organisasi dipimpinnya, seperti Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi), dan dewan mahasiswa seperti yang dikutip di sebuah situs online.
Menjadi aktivis sambil berbisnis adalah potret JK muda. JK juga sempat menjadi asisten dosen. JK dipercaya menjadi juru tulis kuliah wakil presiden (wapres) Muhammad Hatta di Universitas Hasanuddin Makassar.

Setelah lulus dari bangku kuliah, membuat JK makin fokus dengan bisnis menjadi CEO NV Hadji Kalla. Dari bisnis bengkel sederhana, ia berani mengambil keputusan untuk mengimpor mobil Toyota pertama Indonesia yang dipeloporinya dari Makassar.
Di bawah kepemimpinan JK, perusahaan berkembang kian pesat hingga meluas ke bidang perhotelan, konstruksi, penjualan, kendaraan, kelapa sawit, perkapalan, real estate, transportasi, dan banyak sektor lainnya.
JK menikahi Mufidah Miad saat wanita ini tengah menapaki karirnya yang makin cemerlang di Bank BNI Makassar. Mufidah pun berhenti bekerja dan membantu bisnis suaminya, pria yang sudah lama menjadi kekasihnya itu.
Terjun ke dunia politik, JK terlibat dalam pembentukan sekretariat bersama (sekber) Partai Golkar, kemudian menjadi anggota DPRD dan anggota MPR.
Saat Abdurahman Wahid atau Gusdur menjadi presiden, JK dipercaya menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan sekaligus Kepala Bulog. Saat pemerintah berganti, Megawati menjadi Presiden, JK tetap dipercaya menjadi Menteri Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra).
Berbagai kerusuhan di tanah air seperti di Poso dan Ambon, membuat JK harus turun tangan langsung menjadi juru damai. Konflik di antara komunitas Kristen dan Islam, duet JK bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) saat itu yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berhasil menggagas perjanjian damai Malino 1 dan perjanjian damai Malino 2.
Pada 2004, JK sempat mengikuti Konvensi Partai Golkar untuk menjaring calon presiden dari partai beringin itu. Namun ia memilih mundur dari konvensi menjadi capres dari SBY yang diusung Partai Demokrat. Pemilu pertama langsung ini memberikan kemenangan besar kepada pasangan SBY-JK dan mengantarkan JK menjadi Wapres RI yang ke-10.
Saat menjadi wapres, JK menunjukkan banyak berperan dalam mengambil keputusan penting, terutama di bidang ekonomi, misalnya dalam pengalihan penggunaan minyak ke elpiji.
Musibah tsunami Aceh membuktikan betapa sigapnya JK menanggulangi masalah. Rapat kabinet darurat yang dipimpin JK dan mendesak Menteri Keuangan mengeluarkan uang Rp 6 miliar untuk keperluan darurat di Aceh. Dropping makanan langsung diperintahkan JK, termasuk memaksa menembak gembok gudang bulog yang terkunci agar beras bisa diambil untuk kepentingan rakyat Aceh.
Musibah tsunami juga dimanfaatkan untuk menciptakan perdamaian di Aceh. Perundingan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dimediasi Presiden Finlandia menjadi titik penting penyelesaian konflik Aceh.
JK akhirnya memegang tampuk kepemimpinan Partai Golkar dan didaulat menjadi capres bersama Wiranto dengan slogan pemilu lebih cepat lebih baik. Tetapi JK gagal dalam Pemilu, kalah dari pasangan SBY-Boediono. Kekalahan yang tidak membuat JK berhenti mengabdi. JK terpilih menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) dan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.
Dan akhirnya, tahun ini JK kembali ke panggung pemerintahan. Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi, capres yang diusung poros PDIP, meminta JK menjadi cawapresnya.
Beragam pendapat pun muncul dari pengamat politik tentang sosok JK saat ini. Bagaimana pun, sosok JK telah teruji selama 5 tahun menjadi wapres dan JK masih menyimpan cita-cita untuk Indonesia. (*)