JAJ Kampanye Salam Dua Jari

Wajo, MC – Juniwan Akbar Jasman (JAJ) Calon legislatif (Caleg) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Wajo Dapil I Tempe kampanye-kan salam dua jari.

Kampanye salam dua jari itu sebagai sinyal positif bagi pemilih untuk menentukan pilihan pada angka 2 (dua), nomor urut PKB dan nama Juniwan Akbar Jasman (JAJ) dalam surat suara pemilihan legislatif (Pileg) DPRD Wajo 9 April 2014 mendatang.

Putra pertama dari Jasman Juanda (Kepala Dinas Pendidikan Wajo) dan Hj Megawati (Guru sekolah) ini mengaku, diri-nya terjun dalam persaingan Pileg ini bukan karena ambisi untuk duduk manis di-kursi DPRD Wajo.

Akan tetapi, diri-nya maju karena ingin mengaplikasikan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki selama ini untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat di-tingkat legislatif.

“Saya maju karena ingin suara masyarakat terwakil-kan, tak lebih dari itu. Saat ini, Anggota Dewan yang dicari adalah mereka yang enerjik, muda, konsisten dan komitmen pada fungsi utama-nya sebagai seorang legislator, bukan anggota dewan yang terlalu banyak gerakan tambahan. Wakil rakyat yang di-nantikan adalah mereka yang mengerti akan tugas pokok dan fungsi-nya, bukan hanya duduk, diam dan menunggu gaji/tunjangan setiap bulan-nya di kursi DPRD,” terang Juniwan, di Sengkang, Sabtu 1/3.

Tugas legislator, terang Juniwan, adalah tugas yang mulia dan berdasarkan aturan. Namun, dalam pelaksanaan-nya di-bawah, kemuliaan dari tugas itu terkikis dengan sendiri-nya karena penyandang tanggung jawab sebagai wakil rakyat tidak menjalankan tugas dan fungsi-nya dengan baik.

“Bagaimana suara rakyat terwakil-kan bila legislator-nya malah jadi entertaint, waktu-nya habis untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Jadi, jangan heran bila masyarakat beri plesetan kurang sedap terkait legislatif, itu karena wakil rakyat itu sendiri yang tidak bisa menjabarkan tupoksi mereka kepada masyarakat,” terang Jasman.

Juniwan menambahkan, agar masyarakat tidak melenceng dari rel-rel yang ada. Sebagai pemilih cerdas, harus jeli memilah, mana sebenar-nya yang pantas duduk di-kursi DPRD.

“Apakah anggota Dewan hanya duduk, diam dan menunggu gaji ataukah pendatang baru yang memiliki komitmen dan konsistensi menyuarakan aspirasi dan menjadi jembatan bagi masyarakat untuk mendapat hak-hak-nya dari pemerintah,” tegas Juniwan. (aci)