Jawab Pertanyaan Ahli, Bupati Ungkap Solusi Keterbatasan Bahan Baku Sutra

Proses penjurian penghargaan Upakarti 2017, Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru saat beri paparan dihadapan para ahli (Red/MC)

Wajo, MC – Bupati Wajo, Andi Burhanuddin Unru blak-blakan mengungkap cara agar produksi kain sutra tidak tersandung masalah keterbatasan bahan baku. Salah satunya adalah dengan menggenjot budidaya ulat sutra ditingkatan masyarakat.

Ia menjelaskan, sejauh ini masyarakat khususnya yang bergerak pada bidang industri pertenunan hanya mengandalkan bahan baku yang diimpor dari luar negeri untuk memenuhi permintaan pasar. Itupun, dilimit dengan kuota tertentu dan bersaing dengan kalangan elit untuk memperoleh bahan baku.

“Oleh itu kami mendorong budidaya ulat sutra dengan cara memanfaatkan lahan potensial dan coba untuk memberikan bantuan bibit ulat sutra kepada hampir 21 ribu penerima. Bahkan agar budidaya ulat sutra ini berkesinambungan, pemerintah menyiapkan lahan seluas 500 hektare untuk ditanami pakan ulat, melakukan pembinaan dan pelatihan, mendorong pemanfaatan pekarangan dan kolong rumah untuk pengelolaan kepompong menjadi benang, serta berbagai metode lainnya”, papar Bupati Wajo menjawab pertanyaan ahli dalam proses penjurian penghargaan Upakarti tahun 2017 di Gedung Kementerian Perundustrian RI, Jakarta, Kamis, 15 Juni 2017.

Kain sutra hasil tenunan orang Wajo, sambung Bupati, tidak disangsikan lagi kualitasnya, karena benar diproduksi oleh tangan-tangan terampil melalui proses pertenunan konvensional (alat tenun bukan mesin), pemintalan, pencelupan dan pemotifan yang khas sehingga mampu bersaing dipasar dunia.

Nah, untuk mempertahankan nilai jual pasar kain sutra, pemerintah berperan aktif untuk mengkoneksikan pengusaha sutra lokal dengan lembaga perbankan, serta para pengusaha yang bergerak pada bidang pemasaran sutra, baik didalam maupun luar negeri.

“Dengan koneksitas antar pengusaha itulah sehingga produk sutra masyarakat Wajo merambah pasar dan mampu bersaing dengan produk lainnya”, terangnya.

Lanjut Bupati dua periode di Wajo ini menerangkan bahwa industri rumah tangga yang khusus bergerak pada produk kain sutra adalah sektor penyumbang 16 persen pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten Wajo. Presentasenya alami peningkatan setiap tahun.

“Sektor inilah yang mendampingi 55 persen sektor pertanian sehingga pendapatan rata-rata masyarakat kabupaten Wajo hingga saat ini mencapai Rp 37juta pertahun”, ulas Bupati.

Secara garis besar, para ahli yang merupakan tim juri penghargaan Upakarti 2017 lebih terfokus pada upaya pemerintah daerah untuk mempertahankan, mengembangkan dan meningkatkan produk unggulan daerah.

Juri juga mencermati grafik peningkatan produksi yang disandingkan dengan grafik peningkatan pendapatan masyarakat melalui program yang dilaksanakan pemerintah daerah.

“Logika sederhana, kalau permintaan pasar meningkat maka tentu kualitas produksi juga alami peningkatan, nah kami terfokus pada pemikiran tersebut. Jadi kalau berbicara tentang upaya pemerintah untuk meningkatkan produk unggulan daerah itu sudah terjawab dengan sendirinya”, sanggah Bupati menjawab pertanyaan juri Upakarti.

Sekedar informasi, proses penjurian yang diikuti Bupati kali ini adalah kedua kalinya dalam dua pekan terakhir di bulan suci Ramadhan 1438 Hijriah ini.

Pekan lalu, Bupati penyandang Penghargaan Satya Karya Kebhaktian Sosial ini juga diminta untuk beri paparan dan menjawab pertanyaan ahli selaku nominator penerima penghargaan Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup RI, di Sultan Hotel Jakarta. (Red/MC)