Kembalinya PMII Menjadi Banom NU ? Bukan Hal yang Subtansial

Oleh : Zulfikar Yusliskatin
Kader PMII Wajo Sulawesi-Selatan

Sesuai hasil muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di makassar dan hasil Musyawarah Nasional sekaligus Konferensi Besar (Munas-Konbes) di Jakarta. Terdapat salah satu point mengajak untuk kembalinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi badan otonom(banom) dalam masa tenggang tahun 2015.

Wacana integrasi PMII-NU patut diapresiasi dan tak perlu sensitive dalam menyikapi wacana tersebut. Tapi wacana tersebut membuat perhatian serius para kader PMII dari pusat hingga daerah ketika adanya ultimatum “jika PMII tidak menginginkannya, maka NU akan membentuk organisasi ditingkat mahasiswa”, sehingga membuat para kader PMII bersifat reaksionis.

Banyak berbagai pendapat bermunculan dari diskusi-diskusi warung kopi, diskusi alumni sampai pada forum-forum resmi diberbagai level struktur organisasi PMII sendiri. Ada yang menginginkannya dan ada pula yang tetap seperti sekarang. Hal yang sangat wajar terjadi pro dan kontra dalam menyikapinya.

Alasan secara umum Bagi mereka yang menginginkan atau Pro terhadap PMII kembali menjadi banom NU adalah untuk memperkuat eksistensi secara structural, ada pula yang menganggap gerakan dan arah kader PMII mulai terlalu liberal yang dianggap offside, ditambah pula toh NU kan tak lagi berpolitik praktis, sehingga tak ada alasan buat PMII tidak kembali kerumahnya.

Beberapa alasan yang cukup logis, namun menurut saya bukan hal yang subtansial. Pertama, saya fikir NU-PMII bukan pemuja structural tetapi gerakan yang lebih kepada cultural. Kedua, untuk memperkuat eksistensi dan arah gerakan bukan terdapat pada terintegrasi PMII secara structural, namun kesamaan visi dan cita-cita yang diperjuangkan untuk bangsa Indonesia.

Dengan kesamaan visi dan cita-cita perjuangan tidak membuat PMII dan NU bersebrangan, dan tidak saling melemahkan, justru PMII selalu menjadikan arah gerakan dan perjuangan NU sebagai barometer dalam aktualisasi dilapangan baik dalam hal penanaman nilai-nilai keislaman, kebangsaan, kaderisasi dan sampai pada strategi gerakan sekalipun.

Ketiga, kalopun ada yang menganggap arah gerakan dan kader PMII terlalu liberal atau offside itu adalah kewajiban NU sebagai orang tua untuk memanggil dan mengingatkan sang buah hati untuk kembali ke jalan Shiraathal Mustaqiem, bukan justru menghukum dan mengurung dia didalam rumah.

Atau bahkan menghujat dan melakukan pembiaran terhadap sikap kami yang offside tersebut, karena kader PMII saya yakin sampai sekarang masih tetap menjunjung tinggi asas sami’na wa atha’na terhadap orang tua dan para alim ulama. Keempat, NU sudah tidak terlibat politik praktis lagi.

Benar, bahwa NU telah kembali menjadi organisasi kemasyarakatan dan keagamaan setelah deklarasi 1984, di sitobondo, jawa timur dan kembalinya NU ke Khittah 1926. Tetapi sebagaimana realitas itu semua tidak menutup ruang para ulama NU untuk mengambil peran sebagai actor politik bangsa Indonesia.

Ini justru membuat langkah ideal dan strategis PMII akan terganggu dan bahkan merasa ruang gerak kurang bebas.
Sehingga dari beberapa alasan logis, namun kurang subtansial diatas.

Untuk menarik PMII kembali secara structural tidak perlu dipaksa dan diberi sebuah ancaman. Ketika NU bersikeras mencoba membentuk organisasi ditingkat mahasiswa, justru yang menjadi kekhawatiran bukanlah membangun kekuatan NU tetapi malah menyediakan arena konflik baru yang berkepanjangan dan munculnya embrio keruntuhan serta mundurnya organisasi mahasiswa yang berfaham Ahlussunnah wal Jama’ah ini.

Dalam penyeragaman pemahaman (kembali menjadi banom) kade-kader PMII pun sulit dilakukan. Sehingga tidak serta merta atas kemauan segelintir kader, cabang dan Pengurus Besar untuk menarik PMII kedalam struktur tetapi berdasarkan keputusan kolektif yang hanya dihasilkan di Kongres.

Ditambah pula dengan pernyataan banom yang seolah-olah solutif yang mencoba memanfaatkan situasi dan kondisi untuk mengisi ruang kosong justru membuat tidak etis, karena saya menganggap kaderisasi ditingkat pelajarpun masih banyak terjadi kekosongan dan tidak maksimal dalam kaderisasinya.

Sehingga tak perlu repot-repot mengurus mahasiswa cukup maksimalkan kaderisasi ditingkat pelajar pesantren,SMA dan sederajat itu lebih ideal.

Sebagai sebuah harapan, Kami berharap NU lebih fokus terhadap hasil Munas dan Konbes yang lebih subtansial pada persoalan pendidikan, ekonomi serta efektivitas banom dan lembaga-lembaga serta program yang mampu disinergikan oleh PMII sendiri.

Dan PMII akan tetap dan tidak akan pernah meninggalkan dan jauh dari ulama, silaturrahim akan tetap terus terjalin daam mewujudkan cita-cita NU-NKRI yang Rahmatan lil Alamin.

15 November 2014

Wallahul Muwaffieq Ilaa Aqwamhittharieq
Wassalamualaikum Wr.Wb