Lembaga Pendidikan Harus Mendorong Reformasi Pembelajaran

Pare-pare, MC – Rendahnya kualitas guru tak lepas dari lembaga pencetaknya, yaitu lembaga-lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Lembaga-lembaga pencetak guru harusnya lebih banyak mengetahui problema-problema nyata yang dihadapi oleh sekolah.

Lembaga tersebut menjadi lembaga menara gading karena jauhnya strategi pembelajaran yang diterapkan dengan realitas kebutuhan sekolah. Untuk bisa menjawab kebutuhan riil sekolah, perguruan tinggi pencetak guru harus melakukan reformasi pembelajaran.

Demikian diungkapkan oleh Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS pada pembukaan pelatihan pembelajaran aktif USAID PRIORITAS di Hotel Grand Star Parepare (01/11).

Di hadapan lebih 100 dosen peserta pelatihan modul II USAID PRIORITAS dari tujuh universitas dan institut pencetak guru di Sulsel, Jamaruddin mengungkapkan keprihatinannya atas rendahnya kualitas pembelajaran sekolah-sekolah di Indonesia.

Sambil mengutip survey PISA (Program for International Student Assesment) yang dilakukan terhadap 40 negara pada tahun 2012 oleh OECD dan Indonesia berada di urutan ke 39 dalam kualitas pendidikan di bidang matematika, IPA dan literasi, Jamaruddin berharap lembaga pendidikan pencetak guru ikut langsung menangani pendidikan di tingkat sekolah.

“Para dosen turun ke sekolah jangan hanya waktu pendampingan mahasiswa PPL (Praktik Pendampingan Lapangan) saja, sehingga tidak mengetahui bagaimana problematika riil di sekolah, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan sekolah, “ ujarnya.

Menurutnya, salah satu strategi untuk melakukan reformasi pembelajaran adalah para dosen mau bertukar pikiran dan turun tangan langsung memfasilitasi pengembangan sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah mitra lembaga pencetak guru yang biasanya hanya dijadikan tempat pelatihan mengajar mahasiswa, dengan turunnya para dosen berbekal ketrampilan pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah, diharapkan menjadi sekolah-sekolah unggul dan menjadi laboratorium percontohan sekolah lain.

“Sekolah mitra lembaga pencetak guru harusnya tidak menjadi sekolah biasa saja. Kalau setiap institut atau universitas keguruan memiliki 10 sekolah mitra dan dosen turun langsung ikut urun rembug menanganinya, maka sekolah mitra bisa menjadi sekolah unggul yang bisa menjawab tantangan kehidupan anak-anak ke depan,” ujarnya.

100 dosen yang hadir dalam pembukaan ini akan mengikuti pelatihan pembelajaran Modul II di hotel Grand Star Parepare dan Delima Sari mulai tanggal 2 November sampai 4 November 2014. Mereka datang dari tujuh universitas pencetak guru yaitu Unit Pelaksana Program PGSD/PGMI dan PGSMP/PGMTS dari Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Parepare, STAIN Bone, STAIN Palopo, Universitas Cokroaminoto

Dr Nensilianti, penanggung jawab program mengatakan bahwa tujuan pelatihan ini adalah agar para dosen menguasai dan trampil menggunakan modul 2 Pembelajaran USAID PRIORITAS yang disesuaikan dengan kebutuhan LPTK (Lembaga pendidikan TInggi Keguruan) dan menerapkannya dalam pengajaran dan pendampingan kepada mahasiswa yang sedang PPL (Praktik Pengalaman Lapangan)

Setelah mereka menerima pelatihan selama dua hari, membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan melakukan simulasi rencana tersebut, para dosen ini juga akan praktik mengajar langsung di SD maupun di SMP yang ada di Parepare. “Supaya para dosen langsung bisa merasakan tantangan mengajar di sekolah, “ kata Nensilianti.

Modul II USAID PRIORITAS merupakan kelanjutan dari modul I sebelumnya. Unit-Unit yang dilatihkan diantaranya : Memahami Kurikulum 2013, melayani perbedan individu dalam pembelajaran, Gender, Literasi lintas kurikulum dan lain-lain. Unit-Unit tersebut disesuaikan dengan metode pembelajaran aktif yang dipraktikkan di negara-negara maju dalam pembelajaran seperti di Amerika Serikat. (Sumber : USAID PRIORITAS)