Menantu BJ Habibie Lirik Sutera Wajo

Wajo, MC – Menantu BJ Habibie, mantan presiden RI, Insana Ilham Habibie rupanya tertarik dengan kerajinan sutera orang Wajo.

Datang jauh dari Bandung – Jawa Barat, Owner fine art limaran Batik tenun Sutera Indonesia ini sengaja ke-Wajo hanya untuk melirik kerajinan sutera buah tangan masyarakat Wajo di-perkampungan sutera Desa Pakkanna Kecamatan Tanasitolo.

Dia datang bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Pare-pare, Erna R Taufan, Ketua DWP Kota Pare-pare, Rina Faisal A Sapada dan para rombongan pengurus Dekranasda Pare-pare.

“Saya baru kali ini berkunjung di Wajo, padahal, sudah lama saya kenal bahwa daerah ini penghasil sutera yang disenangi baik di dalam negeri maupun luar negeri. Itupun nanti Ibu Ketua Dekranasda Pare-pare yang mengajak saya ketempat ini,” ungkap Insana di aula pertemuan Kantor Bupati Wajo, Sabtu, 27/9.

Dikatakan, pasaran kain sutera di luar negeri cukup menjanjikan. Seperti halnya di Thailand, mereka tertarik dengan kain sutera. Hampir setiap tahun dan secara rutin pemerintah disana melaksanakan kegiatan persuteraan. Padahal, mungkin saja, sutera yang dipasarkan disana berasal dari Kabupaten Wajo.

“Makanya saya heran, kenapa negara thailand bisa menjadikan sutera sebagai icon mereka di mata dunia, sementara, bahan sutera yang dipasarkan disana kebanyakan dari daerah ini. Paling murah, harga kain sutera di thailand mencapai Rp15juta/2meter, nilai yang cukup menjanjikan, itu karena mereka berhasil mendapat perhatian dunia untuk berbelanja di daerah itu,” terang Insana.

Lebih lanjut Insana mengungkap bahwa sebagai desainer dirinya seringkali mengikuti event persuteraan di luar negeri. Dan selama ini, diakui peroleh sutera dari Garut. Yang menjadi pertanyaan disini, kenapa sutera Wajo tidak mampu bersaing dipasar lebih tinggi sementara diketahui bahwa kain sutera yang dipasarkan mungkin saja berasal dari Kabupaten Wajo.

“Makanya saya berpikir untuk menjadikan Kota Sengkang menjadi icon sutera dimata dunia agar bangsa lain berkunjung ke-negara kita. Sebenarnya mudah, memperkenalkan bangsa kita ke mata dunia tidak perlu dengan lobi-lobi atau dengan cara politik. Cukup kita perkenalkan budaya dan potensi yang dimiliki, maka yakin bangsa lain akan mengunjungi kita,” terang Insana.

Ketua Dekranasda, Erna R Taufan mengutarakan, awalnya, Insana punya rencana untuk menjadikan kota Pare-pare sebagai pusat persuteraan di Sulsel, namun, disampaikan bahwa potensi sutera itu sebenarnya ada di Kabupaten Wajo.

“Beliau (Insana) bahkan punya rencana melakukan pelatihan proses pengolahan ulat hingga menjadi kain sutera. Dia juga mewacanakan untuk mendirikan sekolah khusus untuk sutera, makanya beliau berkunjung di Wajo,” terang Ketua TP PKK Kota Pare-pare ini.

Sementara, Ir A Sederhana Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Wajo tak menampik bahwa potensi dan kekayaan alam negara ini seringkali menjadi icon bagi negara lain. Dan ironinya, karena kita disini malah tenang-tenang saja.

“Kondisi seperti inilah yang harus dipikirkan bersama, minimal apa yang menjadi kekayaan daerah bisa menjadi icon daerah kita sendiri baik didalam maupun diluar negeri,” terang Sederhana.

(Penulis : Ekha)