Mesjid Raya Peneki Terbakar Saat Warga Shalat Berjamaah

Mesjid Raya Watang Peneki saat dilalap jago merah (Sumber Foto : BBM)

Wajo, MC – Entah makna apa yang terkandung dibalik peristiwa kebakaran yang menghanguskan Mesjid Raya Watang Peneki, Kelurahan Peneki Kecamatan Takkalalla.

Sementara warga melaksanakan shalat Ashar berjamaah, mesjid yang didirikan puluhan tahun silam ini alami kebakaran hebat hingga menyisakan puing-puing. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul, 15.15 Wita, Senin, 6/4.

Camat Takkalalla, A Bs Suhemi yang dihubungi tak mampu membendung rasa sedih, dengan nada agak terisak dia menceritakan musibah yang menghanguskan satu-satunya mesjid raya didaerahnya.

Suhemi mengungkap bahwa kebakaran itu seakan membuatnya tidak percaya, terlebih, bangunan mesjid itu selama ini terus diupayakan agar lebih megah untuk dimanfaatkan masyarakat dalam menjalankan ibadah.

“Entah musibah apa dibalik ini, saya seakan tidak percaya akan kejadian ini,” ungkap Suhemi kepada MEDIA CELEBES.

Lanjut Suhemi menjelaskan bahwa api pertama kali menyulut dibahagian menara atap mesjid kemudian merembes turun keplatfon dan membesar hingga menghanguskan seluruh bangunan. Kemungkinan, sambung Suhemi, api dipicu dari hubungan arus pendek listrik pada bahagian atap mesjid, terlebih saat ini musim hujan sehingga sambungan kabel yang ada diatap alami korslet.

“Begitu informasi yang diterima dari warga yang pertama kali menyaksikan kejadian itu. Memang, kalau bahagian atap terbakar maka pasti api akan cepat membesar, rangka menara mesjid masih terbuat dari bahan kayu sehingga mudah terbakar,” pungkas Suhemi.

Ditambahkan, mesjid itu memang sudah tergolong tua, bahkan mesjid itu sudah ada saat dirinya masih kecil. Pemerintah kabupaten Wajo dalam hal ini Bupati Wajo A Burhanuddin Unru bersama istri sudah beberapa kali memberikan bantuan, namun hanya dipergunakan untuk melakukan renovasi ringan dan mempercantik bangunan mesjid.

“Disitu kami merasa sedih karena sementara bangunan dipercantik, hanya dalam sekejap bangunan mesjid habis dilalap api,” kata Suhemi

Penulis : Arlin Sujarli