Nahdliyyin Sulsel Bersyukur Sistem Ahwa Diterapkan Pada Muktamar NU

Makassar, MC – Jaringan Muda Nahdliyyin (JMN) Sulsel bersyukur atas ditetapkannya sistem pemilihan melalui ahlul halli wal aqdi (ahwa) atau sistem perwakilan pada muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Agustus 2015 mendatang.

Sebelumnya, sistem ini telah disepakati oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Musyawarah Nasional (Munas) alim ulama yang digelar beberapa waktu lalu, dengan arti, tidak akan melakukan pemungutan suara untuk memilih Rais Aam Syuriah. Dengan begitu, pemilihan posisi tertinggi di PBNU akan dilakukan melalui musyawarah mufakat oleh sejumlah tokoh atau kyai berpengaruh yang akan duduk dalam ahlul halli wal aqdi.

JMN yakin, sistem Ahwa adalah sistem paling demokratis untuk pemilihan Rais Aam Syuriah, sebab ulama-ulama sepuh akan mufakat, “Ini salah satu upaya untuk mensukseskan Muktamar NU, dan akan mengurangi tensi politik, sistem Ahwa juga akan menguatkan proses tradisi demokrasi di NU,” jelas Firman, anggota JMN saat mengelar syukuran penetapan sistem Ahwa disalah satu Rumah Makan di Makassar, Pekan ini.

Senada, anggota JMN lainnya, Suardi Huddin berpendapat Sistem Ahwa sangat perlu dan akan menjadi langkah maju dan mufakat bagi NU, terutama pula tidak memecah belah dan menyeret kyai dalam posisi politik praktis.

“Sistem seperti ini menghindarkan kyai dari irisan politik yang kadang terdapat dilakukan dalam pemilihan,” katanya.

Karenanya, JMN akan ikut mengawal keputusan Munas Alim Ulama NU tentang pemilihan Rais Aam Syuriah melalui Ahwa.

JMN juga berharap tak ada perdebatan sistem pemilihan Rais Aam, kata Suardi, jika hal itu terjadi , berarti ada upaya pihak yang berkepentingan dalam pemilihan Rais Aam. Menurut dia, jika pemilihan menggunakan cara voting, akan menyeret-nyeret kyai.

“Karena sudah ditetapkan dalam forum Munas Alim Ulama, maka cara Ahwa diyakini adalah yang sah dan terbaik,” ujarnya.

Sumber : Humas PKB Sulsel