Panen Serentak Tingkat Nasional, Bupati Wajo Perjuangkan Kembali Harga Gabah

Panen SerentakKepala Litbang Pertanian Kementerian RI, Pangdam VII Wirabuana, Wagub Sulsel dan Bupati Wajo foto bersama usai melakukan panen serentak

Wajo, MC – Panen serentak pada 7 propinsi se Indonesia digelar hari ini, Senin (29/2). Khusus untuk Propinsi Sulawesi Selatan, panen yang diwarnai dengan penyerahan bantuan ini dipusatkan di Desa Sappa Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian RI, Ir Muh Syakir, Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana, Agus Surya Bakti, dan Wakil Gubenur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang menyerahkan bantuan tersebut kepada para penerima yang disaksikan langsung oleh Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru bersama jajarannya.

Dalam sambutannya (Klik Sambutan Bupati Wajo), Bupati Wajo mengungkap bahwa potensi pertanian di kabupaten Wajo cukup baik. Itu tergambar dari produksi padi yang terus alami peningkatan setiap tahun, serta terlaksananya suplay beras oleh pemerintah daerah melalui Perum Bulog ke beberapa daerah luar Sulawesi sejak beberapa tahun terakhir.

“Data dari Sub Divisi Regional Bulog Wajo, Kabupaten Wajo sudah pernah mengirim beras ke 14 provinsi di Indonesia (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Jambi, Sulawesi Utara, Maluku, dan NTT) belum lagi yang belum terdata yaitu yang diantarpulaukan oleh pengusaha-pengusaha swasta,” ulas Bupati.

Lanjut dijelaskan bahwa kabupaten Wajo sebagai salah satu daerah penyangga pangan, pada tahun 2014 lalu berhasil memproduksi gabah sebanyak 732.000 ton atau setara dengan 439.000 ton beras, sementara kebutuhan beras untuk Wajo selama setahun hanya berkisar 56.000 ton, sehingga tiap tahun kita surplus beras sekitar 383.000 ton.

Sedangkan untuk tahun 2015, produksi gabah sudah mencapai 781.481 ton. Jumlah itu meningkat sebesar 7,64% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena adanya peningkatan luas tanam di lahan pasang surut dan kenaikan produktivitas per hektarnya.

“Meski demikian, kami rata-ratakan produksi gabah sekitar 6 ton/hektare dengan potensi luas lahan sekitar 96.000 Ha, yang terdiri dari sawah berpengairan teknis 29.000 Ha, dan tadah hujan 67.000 Ha,” pungkas Bupati.

Bupati menambahkan bahwa, pemerintah daerah dengan segala potensi pertanian yang dimiliki masih temukan beberapa kendala, utamanya dalam upaya memaksimalkan produksi pertanian seperti ; masih terbatas-nya mekanisasi pengolahan lahan, semakin berkurangnya tenaga kerja bidang pertanian, belum beroperasinya bendung paselloreng yang notabene bisa mengairi lahan persawahan pada empat kecamatan seluas 10ribu hektare serta beberapa kendala lain yang berkaitan dengan ketersediaan sarana dan prasarana serta infrastruktur pertanian.

“Ini tentu menjadi kendala bagi pemerintah dan masyarakat petani dalam mengolah lahan dan melakukan penanaman. Dan tentu, permasalahan yang dihadapi tersebut tidak terlepas dari dukungan dan perhatian pemerintah propinsi, pemerintah pusat, TNI serta stakeholder terkait untuk membantu petani di Wajo,” pungkas Bupati.

Lebih lanjut, Ketua Assosiasi Petani Cengkeh (APCI) Sulawesi Selatan ini mengungkap permasalahan lain yang dihadapi pemerintah dan masyarakat adalah masih belum maksimal-nya harga beras oleh pemerintah dalam hal ini Perum Bulog yakni senilai Rp 3.700/kg. Bahkan, harga itu masih kalah bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh pihak swasta.

“Ini tentu berefek pada kelangsungan pertanian serta pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada bidang pertanian, jadi jangan heran jika banyak orang Wajo yang pergi merantau untuk mencari lapangan kerja. Seharusnya, pemerintah mengubah kebijakan standar HPP (harga pembelian pemerintah) ini menjadi 6 ribu hingga 8 ribu/kg. Jika standar harga tersebut stabil, maka yakin masyarakat Wajo tidak akan meninggalkan daerah untuk mencari lapangan kerja. Hal ini perlu dipertimbangkan dan dicermati oleh pemerintah pusat,” saran Bupati.

Panen Serentak 2 Ketgam : Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI, Agus Surya Budi menggunakan mesin pemanen padi (Combine Harvester) saat mengikuti panen serentak di Wajo

Sementara itu, Panglima Kodam (Pangdam) VI Wirabuana, Agus Surya Bakti mengaku siap mendukung pemerintah pada semua tingkatan dalam pelaksanaan program pertanian. Terlebih, Presiden (Joko Widodo, red) selaku panglima tertinggi TNI menitik beratkan program Ketahanan Pangan Nasional dalam Nawa Cita-nya.

Ketahanan Pangan Nasional ini, kata Pangdam, menjadi tugas dan tanggungjawab bersama, semua komponen harus terlibat dan memberi dukungan sebagai wujud ke-bhineka tunggal ika-an. Dan tentu TNI sesuai perintah Presiden akan menyukseskan program ini.

“Berhadapan dengan musuh saja TNI tidak mundur, apalagi jika hanya bertanam. TNI dari seluruh tingkatan, mulai dari Pandam, Danrem, Danramil, hingga tingkat pembina sekalipun harus turun berbaur dengan masyarakat petani. Ini perintah dan kalau ada tentara yang menolak, laporkan kepada saya,” tegas Pangdam yang juga suami dari artis cantik Bella Safira ini.

Perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian, ulas Pangdam, cukup besar. Itu terlihat dari bantuan yang diturunkan pemerintah pusat kepada masyarakat petani. Untuk Sulsel saja, pemerintah pusat melalui kementerian pertanian mengguyurkan bantuan sebesar 1.3 trilyun tahun 2015 lalu.

Begitupula kepada TNI, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan pencetakan sawah. Tahun 2015 lalu, TNI telah melakukan pekerjaan pencetakan sawah seluas 15ribu hektare di Kabupaten Wajo, ditambah lagi pada tahun ini seluas 10ribu hektare. Belum program pencetakan sawah yang dialokasikan pemerintah melalui jajaran Korem sebanyak 23ribu hektare.

“Untuk itu saya sampaikan kepada Bupati, kalau ada kendala yang dihadapi, jangan takut dan sampaikan kendala itu kepada kami. TNI ada dibelakang petani. Kepada Bulog pun demikian, agar tidak kalah bersaing harga dengan pihak swasta,” tutur Agus.

Wakil Gubernur, Agus Arifin Nu’mang mengutarakan bahwa pemerintah propinsi Sulsel pada tahun 2016 ini akan menyalurkan bantuan mekanisasi pertanian berupa 80 unit Combine Harvester (alat pemanen) ukuran jumbo dan sekitar 400 unit lebih ukuran kecil.

“Penggunaan alat pemanen ini lebih efesien dan mampu menekan kerugian petani sekitar 12 persen dibanding menggunakan tenaga manusia. Terlebih saat ini, sektor pertanian diperhadapkan dengan keterbatasan tenaga kerja bidang pertanian. Mereka memilih untuk bekerja pada sektor lain dibanding terjun ke sawah untuk bertani,” pungkas Wagub.

Tidak hanya itu, sambung Wagub, pemerintah propinsi juga akan menyalurkan bantuan kepada masyarakat berupa mesin penanam padi (Transplanter) sebanyak 250 unit, handtraktor sebanyak 2000 unit dan beberapa jenis bantuan lainnya.

“Sedangkan untuk potensi penanaman, pada tahun 2016 ini pemerintah Sulsel menarget¬† 642ribu hektare. Saat ini, lahan pertanian yang sudah ditanami seluas 500ribu hektare dan sisanya sekitar 142 ribu hektare akan dicukupkan pada musim tanam ini,” pungkas Agus. (SIPD)