Produktifitas Meningkat, Petani Menjerit

Penulis : Nur Asri, SH (Pemred MEDIACELEBES)

img_20160920_153853Penanaman Padi Serentak di Kecamatan Belawa

Wajo, MC – Produktifitas lahan dan hasil pertanian di Kabupaten Wajo terus meningkat, kondisi itu tidak ter-nafikan oleh adanya surplus serta tercapainya target swasembada pangan seperti yang dicita-citakan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Namun jangan sangka, peningkatan itu rupanya tidak boleh dijadikan tolak ukur kepuasan petani, alasannya, peningkatan produksi yang ada tidak berbanding lurus dengan pendapatan petani yang disebabkan oleh ; sulitnya pemasaran serta masih rendahnya standar harga pembelian yang dipatok pemerintah.

Bahkan, petani yang notabene adalah ujung tombak pemerintah dibidang pertanian justru menjerit ketika hasil pertanian mereka terjual dengan harga murah, ditambah lagi beban operasional penanaman mencekik isi kantong petani.

Setidaknya, demikian mirisan petani yang dapat disimpulkan MEDIACELEBES dalam dialog pertanian antara pemerintah, jajaran TNI dan masyarakat petani pada acara musyawarah tani yang dirangkaikan dengan penanaman serentak tanaman padi di lokasi cetak sawah baru, Kecamatan Belawa – Kabupaten Wajo, Senin, 19/7.

“Betul bahwa produktifitas pertanian meningkat, namun apakah peningkatan itu sudah berpihak kepada petani?, jawabannya tentu tidak jika standar harga gabah Rp 3.800*/kg seperti sekarang ini. Bagaimana mau sejahtera kalau harga pembelian rendah, belum sewa angkutan dan atau kebutuhan lain yang semua membebani petani,” ujar Andi Salman, Ketua KTNA Kecamatan Belawa.

Dipahami bahwa, perhatian pemerintah melalui pendampingan serta perlakuan khusus yang dilakukan oleh jajaran TNI cukup signifikan, bahkan melalui pendampingan itu, lahan yang tadinya semak belukar sudah bisa tertanami pasca pencetakan, begitupula dengan keterjangkauan penanaman juga semakin bertambah luas.

img_20160920_153849Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru saat memimpin penanaman padi serentak bersama jajaran TNI, pegawai dan masyarakat petani di kecamatan Belawa

“Namun, apakah dengan itu sudah menjamin pendapatan petani?, jawabannya kembali tidak, petani belum sejahtera oleh karena tidak adanya keseimbangan antara produktifitas dengan tingkat pendapatan petani. Untuk itu, kami berharap kepada pemerintah memikirkan hal ini, jangan hanya terfokus pada peningkatan produksi saja, akan tetapi pemerintah juga harus jeli mempertimbangkan standar harga agar penghidupan petani lebih baik,” papar warga ini.

Menanggapi keluhan itu, Ketua Tim Percetakan Sawah, Brigjen TNI Wahyu Agung mengungkap kesiapan untuk membahasakan ditingkat pusat. Ia menyebut, permasalahan harga tidak hanya diteriakkan di Wajo, akan tetapi menyeluruh di Indonesia.

“Untuk itu saya berjanji akan memperjuangkan dan mengangkat keluhan itu ditingkat pusat,” janji Jendral.

Sementara itu, Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru diawal acara membeberkan, produksi pertanian di kabupaten Wajo per-tahun 2015 lalu mencapai 756.387 ton atau setara dengan 453.832 ton beras. Peningkatan itu, kata Dia, seiring dengan pertambahan luas lahan melalui pencetakan sawah baru sebanyak 9.800 hektare dengan potensi panen 5 hingga 7 ton per-hektare.

Dengan demikian, luas lahan persawahan setelah pencetakan bertambah menjadi 96.634 hektare, terdiri dari ; 29.097 hektare lahan berpengairan tekhnis dan 67.537 hektare sawah tadah hujan.

“Kendala yang dihadapi saat ini bukan lagi masalah produktifitas, akan tetapi standar harga pembelian yang dikeluarkan pemerintah masih terhitung rendah, belum kendala lain yang dihadapi yakni beban operasional penanaman juga mencekik petani,” jelas Bupati.

Hadir dalam acara, utusan Danrem 141/Toddopuli, Inspektorat Jendral bersama Dirjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian, Kadis Pertanian Pemprov Sulsel, Kepala Pelaksana Lapangan Pencetakan Sawah (Kalaklap) serta beberapa tamu lainnya. (*)

(Tidak untuk dicopy atau disalin sebahagian dan atau keseluruhan isi tanpa seizin Redaksi, terima kasih)