Ribuan Guru di Bone Terancam Gagal Sertifikasi

Para guru di Bone saat seleksi fasilitator daerah USAID PRIORITAS beberapa waktu yang lalu

Bone, MC – Regrouping sekolah, atau menyatukan sekolah-sekolah yang berdekatan yang memiliki sedikit murid atau sering disebut dengan sekolah kecil, mutlak dilakukan di Bone. Ini dikarenakan terdapat ratusan sekolah dasar di Bone yang jumlah murid per rombongan belajarnya kurang dari 20 orang.

“Kalau tidak diadakan regrouping dan kebijakan lain yang mendukung, 1577 guru sekolah dasar di Bone akan terancam tidak mendapatkan tunjangan sertifikasi,“ demikian penegasan M Ridwan Tikola, Governance and Management Specialist USAID PRIORITAS pada kegiatan Konsultasi Publik Penataan dan Pemerataan Guru yang dilaksanakan di Gedung PGRI Bone, Kamis, 28/5 lalu.

Di hadapan 40 peserta kegiatan terdiri atas Kepala Dinas Pendidikan dan staf, Kemenag , Bappeda, BKD, kepala sekolah dan berbagai pihak yang terkait, Wakil Bupati Bone, Ambo Dalle, berjanji akan segera menindaklanjuti hasil temuan dan olah data penataan dan pemerataan guru yang dilakukan oleh USAID PRIORITAS bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Bone ini.

“Kita akan segera menghadap Bupati untuk melobi segera menandatangani draft peraturan bupati tentang penataan dan pemerataan guru,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diolah dengan software Simdikdas terhadap DAPODIK Kabupaten Bone, terdapat 351 sekolah dasar atau (52 %) dari keseluruhan total sekolah dasar yang ada di Bone yang jumlah siswa per rombongan belajarnya kurang dari 20 orang.

Padahal berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, tunjangan sertifikasi guru sekolah dasar akan dicabut kalau murid yang diajar satu orang guru per rombongan belajarnya kurang dari 20 orang. Aturan yang akan diberlakukan efektif mulai tahun 2016 ini tentu akan membuat 1577 atau sekitar 48 % guru sekolah dasar di Bone akan kehilangan sertifikasi jika regrouping dan kebijakan lain yang mendukungnya tidak segera dilakukan.

Sebagai gambaran, terdapat. 248 dari 351 sekolah dasar tersebut memiliki rata-rata jumlah siswa hanya 16 orang per rombongan belajarnya. Misalnya di kecamatan Ajjangale, ada sekitar 11 sekolah dasar yang muridnya berjumlah rata-rata cuma 12 orang saja. 15 sekolah dasar dengan rata rata jumlah siswa per rombel 12 orang di Kecamatan Awangpone, dan 18 sekolah dasar dengan rata rata murid per rombel cuma 12 di Kecamatan Cenrana.

Banyaknya sekolah-sekolah kecil ini membuat pembengkakan pendanaan pendidikan di Bone. “Mengajar dengan jumlah siswa per rombelnya cuma delapan orang, dengan mengajar jumlah siswa per rombelnya dua puluh orang, dana yang dibutuhkan hampir sama saja. Kalau tidak di regrouping, pendidikan menjadi tidak efektif dan Bone akan kehilangan banyak dana daerah yang sebenarnya bisa digunakan untuk peningkatan kapasitas guru,” ujar M. Ridwan Tikola.

Sumber : USAID PRIORITAS