Sekolah Gelar Maulid, Belasan Siswa Pesta Miras Dibalik Gedung

Wajo, MC – Miris mendengar ulah nakal siswa sekolah di SMA 1 Pitumpanua, saat guru dan siswa mengikuti acara maulid Nabi Besar Muhammad SAW di sekolahnya, puluhan siswa malah asyik pesta minuman keras dibalik gedung lingkungan sekolah. Peristiwa itu terjadi, Selasa, 20/1 kemarin.

Kepala sekolah SMA 1 Pitumpanua, Muh Jenal kepada mediacelebes.com tak menampik kejadian itu. Dia mengaku bahwa 11 orang siswa ditemukan pesta minuman keras dalam lingkungan sekolah saat maulid nabi sementara berlangsung.

“Betul, ada 11 orang siswa yang kami dapatkan menenggak minuman keras berupa tuak pahit (ballo) saat pelaksanaan maulid, mereka melakukan aksi itu disalah satu ruangan eks asrama guru,” ungkap Jenal melalui via ponselnya, Rabu, 21/1.

Sementara itu, guru BK SMA 1 Pitumpanua, Agustan mengutarakan bahwa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para siswa ini diberi sanksi pembinaan oleh guru pembimbing dan menyampaikan masing-masing orang tua siswa akan kejadian tersebut.

“Kami sampaikan hal itu untuk dilakukan pembinaan bersama, para orang tua siswa juga diminta menandatangani surat pernyataan agak ketika peristiwa itu terulang maka orang tua siswa tidak melakukan keberatan terhadap tindakan yang diberikan kepada peserta didik yang membuat kesalahan, termasuk itu bersedia menarik anaknya dari SMA 1 Pitumpanua dan diberi surat pindah sekolah,” pungkas Agustan.

Ditambahkan bahwa pembinaan yang diberikan kepada siswa ini berupa “Push Up” dan lari mengitari lapangan basket sebanyak 20 kali putaran.

“Kali ini, pihak sekolah masih memberi sanksi pembinaan, dan menyampaikan bahwa bila kejadian seperti itu diulang, maka pihak sekolah akan memberi sanksi tegas berupa pengembalian kepada masing-masing orang tua untuk dibina,” pungkas Agustan.

Salah seorang pemerhati pendidikan yang namanya enggan dipublikasikan mengungkap bahwa kejadian seperti itu baru terjadi di SMA 1 Pitupanua. Menurutnya, kasus ini harusnya menjadi pembelajaran terhadap orang tua dan aparat dunia pendidikan.

“Apakah ini bentuk kegagalan orang tua mengawasi anaknya ataukah aparat dunia pendidikan yang kurang tegas melakukan pembinaan. Pertanyaannya tentu dikembalikan kepada kita semua,” pungkas pemerhati ini.

Penulis : Sultan, S.Sos