Soal Beras Impor, Bupati Wajo Plintak – Plintuk

DSC_0026Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru (Foto : Sul)

Wajo, MC – Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru plintak-plintuk dan kembali mempertegas dirinya menolak peredaran beras impor di kabupaten Wajo, itu kata Bupati sama sekali tidak menguntungkan petani lokal.

Bupati dua periode ini menilai, peredaran beras impor adalah bahagian dari bisnis menguntungkan yang dimotori oleh para mafia dan orang-orang hebat dibidang pemasaran beras. Terlebih, peredaran beras impor hanya akan melemahkan pasar domestik produksi lokal.

“Saya secara tegas menolak beras impor, saya sependapat dengan dengan Gubernur Sulsel (Syahrul Yasin Limpo, red) menolak peredaran beras inpor di Sulsel dan secara khusus di kabupaten Wajo, itu sudah kami lakukan sejak 2013 lalu,” ujar Bupati saat mendampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian RI, DR Ir Muh Sakir dalam acara panen raya padi di desa Kalola kecamatan Maniangpajo, Kamis, 20/8.

Beras impor seperti yang dimaksud, lanjut Bupati, diperoleh dengan harga murah diluar negeri, disana para importir membeli beras dengan harga murah dan dipasarkan ke Indonesia dengan harga tinggi.

“Jadi yang diuntungkan disini adalah para mafia bisnis jika beras impor ini beredar dan marak dipasaran, maka tentu beras petani kita di Indonesia akan kalah bersaing harga, ini tentu harus dipikirkan dan perlu dicermati oleh pemerintah pusat. Buat apa kita beli beras dari luar sementara beras kita disini tidak dimaksimalkan pemasarannya,” tegas Bupati.

Panen raya padi yang rencananya dihadiri oleh Menteri Pertanian RI, A Amran Sulaiman ini berjalan dengan meriah. Selain Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementarian Pertanian, DR Ir Muh Sakir, hadir pula Kepala Balai Penelitian Perkebunan Pusat, Bakri Jufri, Wakil Bupati Wajo, A Syahrir Kube Dauda, Dandim 1406 Wajo, Letkol Inf Sarkistan Sihaloho, Kapolres Wajo, AKBP Muh Guntur dan beberapa kepala SKPD serta para Camat se Kabupaten Wajo.

Kepala Dinas Pertanian Wajo, IB Putu Artana diawal acara melaporkan bahwa produksi pertanian di kabupaten Wajo pada musim tanam sebelumnya mencapai 452ribu ton dengan kebutuhan lokal hanya dikisaran 54ribu ton.

“Dengan demikian, kabupaten Wajo sebagai salah satu lumbung pangan nasional bisa surplus beras hingga 398ribu ton lebih,” jelas Putu. (aci)