Survey PISA : 76 Persen Anak Indonesia Tidak Mampu Menangkap Pelajaran Matematika

Para peserta sedang merefleksi kembali hasil modul 1 sebelum dilakukan pelatihan modul II. Mereka mempresentasikan di hadapan sekolah yang lain

Parepare, MC – Mengutip Survey Internasional PISA pada tahun 2012 bahwa 76 persen anak-anak Indonesia tidak mampu menangkap pembelajaran matematika di sekolah, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan Jamaruddin menelisik beberapa penyebabnya. Pertama, karena guru kurang memiliki metode mengajar yang baik.

“ Metode kita masih banyak yang model ceramah, sehingga transfer ilmu kepada anak didik satu arah, kurang tertangkap dan tidak membekas,” katanya. Kedua, karena guru kurang mempersiapkan rencana pembelajaran yang akan diterapkan di kelas. “Guru sering mengajar tanpa persiapan,” ujarnya.

Hal tersebut diungkapkan di hadapan 160 pendidik dari 24 Sekolah Menengah dan Madrasah Tsanawiyah yang akan akan mengikuti pelatihan pembelajaran Modul II USAID PRIORITAS di hotel Delima Sari Parepare (14 – 17/2/2015).

Menurutnya jika pembelajaran di kelas dilakukan dengan efektif, siswa tidak perlu lagi banyak belajar menjelang ujian. “Seringkali anak didik kita belajar semalaman sebelum ujian. Paginya malah jadi ngantuk. Sedari awal mereka memang tidak menangkap pembelajaran di kelas karena penyelenggaraannya tidak efektif,” ujarnya.

Ia lebih jauh mensinyalir, seandainya pembelajaran di kelas efektif, sebagaimana di negara-negara maju, maka tidak diperlukan lagi lembaga bimbingan belajar khusus yang banyak menjamur di kota-kota. “Kita melihat yang juara-juara olimpiade sebenarnya bukan hasil pembelajaran di kelas, tapi dilatih demikian rupa oleh tim ahli khusus dan tidak mencerminkan kemampuan pembelajaran di kelas,” ujarnya lebih jauh.

Sekretaris Dinas Pendidikan Parepare, Umar SPd MPd, menguatkan hal tersebut dengan menyatakan bahwa guru harus mengubah metode pembelajaran dan metode kontekstual yang dibawa oleh USAID PRIORITAS harus diterapkan dengan konsisten. “Program ini bukan program USAID PRIORITAS saja, tapi sudah menjadi program pemerintah daerah, jadi kita harus ikuti dengan sungguh-sungguh ,” ujarnya mendorong peserta melaksanakan apa yang dilatihkan dengan sungguh-sungguh.

Pelatihan modul II yang dilaksanakan selama empat hari ini mendorong pendidik yang terdiri dari guru, kepala sekolah dan pengawas lebih jauh mengetahui dan terampil dalam mengajar dengan metode kontekstual, melakukan penilaian otentik terhadap pembelajaran siswa, melayani perbedaan individu, mengintegrasikan gender dalam pembelajaran dan beberapa aspek lainnya. Mereka juga akan terjun langsung praktik mengajar di sekolah yang sudah ditunjuk.

Sumber : USAID PRIORITAS
Editor : Arlin Sujarli