Terkait Keluhan BPJS, RSUD Siwa Beri Penjelasan

Wajo, MC – Keluhan keluarga pasien peserta BPJS terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Siwa yang diminta untuk membeli obat diapotik, dijawab oleh pihak RSUD.

Kepala RSUD Siwa, dr Armin mengungkap bahwa keluhan itu kemungkinan karena pasien berikut keluarga dekatnya belum memahami prosedur pelaksanaan BPJS.

Armin menjelaskan bahwa sebelum dilakukan tindakan medis, pasien lebih dulu ditanya, apakah ingin menggunakan obat paten atau obat yang ditanggung dalam program nasional (prona) BPJS.

RSUD dalam pelaksanaannya sudah melalui protap atau mekanisme yang berlaku. Bahkan, sebelum dilakukan operasi, pihak RSUD meminta kesepakatan dari pihak keluarga pasien untuk pelaksanaan operasi.

“Sebelum ada tindakan, pasien kami beri nota obat, dan dimintai persetujuan, apakah bersedia menggunakan obat paten atau obat yang ditanggung BPJS, dan waktu itu keluarga pasien mengiyakan. Itupun, sebelum dilakukan operasi, keluarga pasien kami mintai kesiapan untuk proses operasi,” ungkap Armin, Kamis, 8/1.

Ditambahkan, bahwa pihak rumah sakit tidak berani melanggar protap yang ada, terlebih hal itu telah diatur Undang-undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Daerah (Perda).

“Dalam aturan (Perda no 11 tahun 2011) ditegaskan biaya pelayanan rumah sakit tidak ditanggung obatnya. Seperti yang dialami pasien (Laila Setiawati), kalau dia terdaftar sebagai pasien umum, maka dia diharuskan membayar jasa operasi sebesar Rp 5.200.000,-. Namun bila menggunakan BPJS, maka pasien tidak dibebankan lagi biaya operasi seperti pasien umum,” pungkas Armin.

Senada dengan dr Armin, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo dr Baso Rahmanuddin yang dimintai tanggapan terkait hal itu beri penjelasan yang sama.

Melalui via sms, Rahmanuddin menerangkan bahwa pembelian obat diluar rumah sakit biasanya berupa obat paten, yang tidak ditanggung BPJS.

“Biasanya obat paten tidak ditanggung BPJS, tidak ada di rumah sakit, sehingga harus dibeli diluar. Pasien bisa menggunakan obat yang hanya ditanggung BPJS, hanya berupa obat generik,” pungkas Rahmanuddin.

Sementara itu, Nawir, suami pasien yang dikonfirmasi ulang terkait penjelasan Kepala RSUD Siwa, mengaku bahwa, sebelum membeli obat luar dirinya sempat dimintai persetujuan, namun, waktu itu dirinya mengaku tidak terlalu memahami penjelasan yang diberikan pihak RSUD.

“Samar-samar memang, saya sempat ingat ada penawaran tentang pembelian obat, namun tidak terlalu memahami penjelasan pihak RSUD, Saya iyakan saja karena saya kira semuanya telah ditanggung oleh BPJS. Nanti saya tahu bahwa obat tersebut diluar tanggungan BPJS setelah saya diminta harga pembelian obat,” pungkas Nawir. (Sultan)