Tiga Sebab Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Wajo, MC – Koordinator USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan menyatakan keprihatinannya terhadap mutu pendidikan Indonesia yang kalah jauh dengan negara-negara lain. Salah satu indikatornya adalah minimnya produk-produk inovatif hasil pendidikan Indonesia.

“Kalau kita lihat dan jalan-jalan keluar, maka hampir semua produk adalah karya inovasi negara lain. Mobil-mobil bersliweran, semua produk negara lain.  Mulai sekarang, kiita musti menciptakan generasi-generasi inovatif agar ke depan kita tidak semakin dihegemoni oleh produk negara lain,” ujarnya di sela-sela pelatihan manajemen sekolah untuk guru baru-baru ini di Wajo.

Sambil mengutip survey PISA (Program for International Student Assesment) yang dilakukan terhadap 40 negara pada tahun 2012  oleh OECD dan Indonesia berada di urutan ke 38 dalam kualitas pendidikan di sain (science), matematika dan literasi, Jamaruddin berharap para pendidik  mengevaluasi metode pembelajaran dan mereformasinya.

Reformasi itu terjadi kalau guru sendiri berusaha terus menerus mengembangkan diri, menemukan sendiri pengetahuan dari apa-apa yang telah dicerapnya dan berusaha membuat inovasi-inovasi.

Dia juga mengungkapkan beberapa sebab yang membuat mutu pendidikan di Indonesia rendah, diantaranya sebagai berikut;

Pertama, guru terlalu terikat buku paket. Mereka tidak berani dan kreatif mengambil berbagai buku sumber  atau berani menantang dirinya sendiri untuk berinovasi.

“Bahkan kondisi ini berimbas pada siswanya. Jawaban siswa dianggap salah, kalau tidak sama persis dengan buku paket. Padahal pendidikan modern mensyaratkan siswa secara kreatif mengungkapkan berbagai jawaban dengan nalar dan alasan yang rasional,” ujarnya

Kedua,  guru masih menggunakan metode ceramah. “Metode ceramah mematikan kreatifitas siswa. Siswa menjadi tidak memfungsikan nalar berpikirnya.  Fungsi guru adalah memfasilitasi dan mendorong siswa menggunakan nalarnya dan berkembangnya inovasi dan kreatifitas siswa,” ujarnya.

Ketiga, pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa masih berupa pertanyaan tertutup. “Guru tidak terbiasa memberi pertanyaan terbuka yang bisa mengasah daya nalar siswa,”ujarnya. Guru bahkan seharusnya bisa membuat para siswa mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan kreatif yang bisa mengarahkan pada inovasi-inovasi.

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dia mengingatkan kepala sekolah dan komite memiliki peran yang besar. “Peningkatan kualitas guru terjadi kalau kepala sekolah berperan aktif dalam manajemen sekolah,  mensupervisi dan mendukung reformasi pembelajaran menjadi lebih rasional dan inovatif,” ujarnya.

(Sumber : USAID Prioritas)