Tuntaskan Narkoba, Ini Komentar Bupati Wajo

Bupati Wajo 2 Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru

Wajo, MC – Bupati Wajo, A Burhanuddin Unru mengaku terusik dengan maraknya peredaran narkoba (narkotik dan obat-obatan terlarang) ditengah masyarakat. Itu, kata Bupati, menjadi masalah dan berefek negatif terhadap perkembangan ekonomi, sosial, kesehatan dan agama serta nilai-nilai luhur budaya masyarakat di Kabupaten Wajo. Untuk mencermati lebih dalam seperti apa tanggapan Bupati Wajo terkait peredaran dan penggunaan barang haram ini, berikut kami simpulkan dalam bentuk wawancara komentar Bupati tentang Narkoba seperti yang tertuang dalam tulisan dibawah ini ;

Narkoba menempatkan Kabupaten Wajo pada urutan kedua setelah Makassar, apa tanggapan Bapak ?

ABUR : Selaku pemerintah, kami tentu sangat prihatin dan khawatir akan kondisi tersebut, terlebih peredaran narkoba ini berefek negatif terhadap masyarakat.

Efek negatif seperti apa dimaksud ?

ABUR : Narkoba bisa merusak mental, perilaku dan kebiasaan buruk pemakainya, berbuat aneh, tidak beretika dan ulahnya bisa merusak tatanan sosial, ekonomi, kesehatan serta berpengaruh pada nilai-nilai agama dan kebudayaan masyarakat.

Apakah Bapak bisa menggambarkan bawaan seorang pengguna ?

ABUR : Mudah sekali, untuk menandai seseorang apakah dia seorang pengguna narkoba atau tidak, itu bisa dikenali dengan melihat kondisi tubuh dan perilaku seseorang dalam kesehariannya.

Contohnya ?

ABUR : Kondisi kesehatannya menurun, mata cekung kedalam, sering menyendiri dan bertingkah aneh. Jika sudah kecanduan, sering kelihatan menggigil dan terjadi perubahan psikis dalam bergaul atau berkomunikasi dengan orang lain.

Menurut Bapak, modus peredaran Narkoba ini seperti apa ?

ABUR : Narkoba beredar dan bisa digunakan oleh siapapun. Oknum pengedar dengan berbagai macam pola yang diterapkan berusaha untuk mencari target yang bisa diperdayanya. Biasanya, pengedar memberikan secara cuma-cuma dengan iming-iming pertemanan atau hanya sebatas mencoba saja secara berulang. Namun, ketika target sudah ketagihan, maka pasti target ini tadi akan akan berusaha dengan cara apapun mencari dan memperoleh narkoba, termasuk itu dengan bertindak diluar batas kewajaran.

Diluar batas kewajaran, misalkan saja ?

ABUR : Diluar batas kewajaran adalah perilaku aneh yang dibawa oleh pengguna ketika sudah kecanduan. Termasuk itu secara sadar berbuat tidak benar seperti berbohong, meminjam uang untuk beli narkoba, mencuri atau sampai berontak ketika sudah dalam kondisi sakaw.

Menurut Bapak, apa penyebab sehingga Wajo nomor dua peredaran narkoba di Sulsel ?

ABUR : Sebenarnya hal ini perlu pengkajian, namun menurut kami peredaran narkoba didukung dengan letak geografis kabupaten Wajo yang merupakan daerah lintasan arah Bone, Soppeng, Makassar, Sidrap, Luwu dan Kolaka. Kondisi geografis itulah yang menyebabkan narkoba mudah beredar.

Daerah mana saja yang paling besar tingkat peredarannya ?

ABUR : Peredaran narkoba banyak terjadi di daerah perbatasan, seperti di kecamatan Belawa, Pitumpanua, Sabbangparu dan Pammana. Begitu juga dikecamatan Tempe yang diketahui paling banyak penduduknya di antara kecamatan lain di Wajo.

Peredaran narkoba berada ditingkatan mana saja ?

ABUR : Peredaran narkoba tidak kenal tingkatan atau komunitas tertentu. Semua bisa ter-gaet untuk mencoba ataupun mengedarkan barang haram ini, baik itu dikalanganPegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun masyarakat biasa. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah ketika peredaran dan penggunaan narkoba ini merambah dikalangan generasi muda yang masih mengenyam pendidikan ditingkat sekolah atau perguruan tinggi.

Menurut Bapak, tingkatan mana yang paling rawan ?

ABUR : Sebenarnya semua tingkatan rawan akan peredaran dan penggunaan narkoba ini. Akan tetapi jika ditarik benang merahnya, tingkatan yang paling rawan adalah ditingkat anak sekolah. Anak sekolah adalah generasi muda penerus bangsa, jika ini sudah dimasuki, meski itu hanya berstatus pengguna, maka yakin dan tidak mustahil generasi muda kita akan rusak.

Sejauh ini, upaya apa yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi peredaran dan penggunaan narkoba ini ?

ABUR : Awalnya, pemerintah memercayakan penanganan narkoba ini dilakukan oleh aparat kepolisian dan lembaga terkait. Namun, tak dipungkiri bahwa, keterbatasan personil yang dimiliki oleh aparat kepolisian tidak mampu secara keseluruhan melakukan pengawalan agar narkoba ini tidak beredar di Wajo. Bayangkan, jumlah penduduk di Wajo sekitar 40 ribu jiwa lebih sedang personil kepolisian hanya dikisaran 700-an. Ini pasti tidak akan maksimal tanpa adanya gerakan luar biasa yang dilakukan.

Gerakan luar biasa, maksud Bapak ?

ABUR : gerakan luar biasa yang dimaksud adalah bagaimana permasalahan narkoba ini menjadi masalah kita semua, baik itu pemerintah, aparat keamanan dan masyarakat. Pengawasan harus dilakukan secara bersama dan serentak, pemerintah bekerja, begitupula aparat keamanan juga harus maksimal. Dan yang paling penting disini adalah bagaimana masyarakat terlibat melakukan pengawasan dan berani mengambil tindakan bilamana dilingkungannya ada yang berani mengedar atau menggunakan narkoba.

Keterlibatan masyarakat sangat penting. Bisa Bapak jelaskan tentang hal itu ?

ABUR : Keterlibatan masyarakat yang dimaksud disini adalah bagaimana masyarakat bisa menjadi tauladan, berdedikasi dan berpartisipasi untuk melakukan pengawasan dilingkungan masing-masing, khususnya pengawasan dalam rumah tangga. Bagaimana orang tua mendidik dan mengawasi anak-anaknya untuk tidak terlibat Narkoba.

Efek positif dari pengawasan oleh masyarakat ?

ABUR : Jika itu dilakukan oleh masyarakat, maka nilai positif yang akan diperoleh adalah mempersempit ruang bagi pengedar dan pengguna narkoba untuk melakukan aksinya. Korban Narkoba ini akan merasa dibuntuti sehingga tidak mampu berbuat banyak untuk mengedar atau menggunakan narkoba.

Bapak adalah pemimpin di Wajo, sebagai seorang Bupati tindakan apa yang dilakukan jika saja diantara aparatnya ada yang narkoba ?

ABUR : Tidak ada teloransi terhadap pengedar atau pengguna narkoba, titik, itu harga mati. Jika ada yang ditemukan, baik itu pejabat ataupun pegawai biasa, maaf saja, saya pasti akan beri sanksi. Bila perlu saya usulkan pemecatan agar pelaku sadar dan tindak menganggap remeh permasalahan narkoba ini.

Bagaimana jika pengedar dan atau pengguna Narkoba ini dari kalangan Polri, TNI, Kejaksaan atau Pengadilan ?

ABUR : Semua tentu punya jalur tersendiri. Siapapun yang melakukan kesalahan pasti akan disanksi. Tidak ada seseorang di Republik ini yang kebal hukum, sehingga bila ada yang terlibat mengedar dan atau menggunakan narkoba maka pasti akan diganjar dengan hukuman setimpal, termasuk itu dari kalangan penegak hukum sendiri.

Dari pantauan Bapak, apakah aparat penegak hukum di Wajo bersih dari narkoba ?

ABUR : Saya tidak bisa menjamin, semua bisa saja terlibat dan tidak kenal dari kalangan manapun, bahkan itu bahagian dari saya sendiri. Namun, sebagai aparat penegak hukum tentu harus memberikan contoh, menjadi tauladan dan mematuhi aturan kepada masyarakat. Jika itu tertanam dalam diri, maka kemungkinan untuk terlibat narkoba sangat kecil.

Di Wajo, aparat Kepolisian pernah memberikan penghargaan kepada salah seorang warga yang membantu aparat penegak hukum mengungkap pelaku pembunuhan. Apakah Bapak selaku aparat pemerintah juga akan melakukan hal yang sama dalam penuntasan Narkoba ini ?

ABUR : Betul, apa yang dilakukan oleh warga tersebut mengungkap kasus pembunuhan patut diapresiasi, dan itu sebenarnya bisa menjadi contoh dalam penuntasan kasus Narkoba. Sepanjang untuk kebaikan, tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk itu memberikan penghargaan kepada masyarakat yang secara sukarela dan berdedikasi mengungkap kasus peredaran atau penggunaan Narkoba.

Kami pernah mendengar, peredaran Narkoba tidak hanya dilingkungan luar sekolah, namun, peredaran dan penggunaan barang haram ini juga sudah merambah ditingkatan anak sekolah tanpa kenal umur. Upaya apa yang dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kerawanan ini ?

ABUR : Pada intinya pengawasan yang paling prima diawali dari rumah tangga, jadi sebelum berangkat meninggalkan rumah, orang tua harus membekali anaknya dengan penyadaran akan resiko Narkoba. Sekolah adalah tempat berkumpul anak-anak dan guru sudah pasti tidak mampu secara keseluruhan mengawasi siswa sekolah. Untuk itu dibutuhkan sinergitas antara orang tua dan guru melakukan pengawasan terhadap anak sembari memberikan pembelajaran terkait bahaya Narkoba ini.

Kedepan, program apa yang akan Bapak canangkan untuk menuntaskan Narkoba ini di Kabupaten Wajo ?

ABUR : Itu tadi, keterlibatan seluruh elemen, apakah itu aparat pemerintah, kepolisian, TNI, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda. Semua harus satu visi dan bersama-sama membasmi Narkoba ini. Peredaran barang haramini tidak boleh diangggap enteng apalagi sampai dibiarkan merusak generasi muda tanpa perlawanan yang lahir dari keterlibatan seluruh elemen.

Penulis : NUR ASRI, SH (Pimred MEDIA CELEBES)

(Dilarang meng-copy atau mengutip sebahagian atau keseluruhan isi tulisan tanpa se-izin Redaksi…Terima Kasih)