USAID Prioritas Hibahkan 14.550 Buku di Sulsel

Makassar, MC – Jika distribusi buku kurikulum 2013 masih mandek dalam penyalurannya hingga menjadi kendala bagi kalangan guru di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, lain halnya dengan USAID Prioritas.

Program kepedulian masyarakat Amerika kepada dunia pendidikan di Indonesia ini malah menghibahkan lebih dari 14.550 buku ke sekolah-sekolah di empat kabupaten/kota Sulawesi Selatan, yaitu Maros, Wajo, Bantaeng, dan  Makassar.

Buku bacaan dengan cover yang lux  menarik ini terdiri dari berbagai jenis; komik, novel anak-anak best seller, budaya popular,  pengetahuan umum dan lainnya. Bacaan ini disesuaikan dengan  level pengetahuan anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah.Bantuan dari rakyat Amerika ini dilakukan untuk mendukung program peningkatan  minat baca (literasi) di daerah ini.

Sebelumnya, USAID PRIORITAS di tahun 2014 pernah melakukan penelitian tentang kemampuan membaca siswa-siswi Sulawesi Selatan Tingkat Sekolah Dasar yang hasilnya cukup rendah, terutama dalam memahami bacaan.

“Dalam kelancaran membaca, kita seperti negara-negara maju. Namun dalam memahami bacaan, kita tertinggal jauh, bahkan dari negara-negara ASEAN,” ujar Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS  Sulawesi Selatan setelah serah terima bantuan kepada Kepala Sekolah SD Mitra di salah satu hotel di Makassar baru-baru ini. 

Penelitian USAID tahun 2014  terhadap kemampuan membaca anak kelas tiga SD di tujuh provinsi di Indonesia menunjukkan 80 persen sudah mengenal huruf dengan baik, namun sayangnya kurang dari 4  persen ( hanya 3,31 %)  yang memahami isi bacaan.     

“Data ini menyentak kita semua, dan pemerintah harus membuat langkah-langkah agar  siswa mampu menggunakan nalar dan imajinasi dalam membaca sehingga memahami isi bacaan, tidak hanya mampu membaca saja,” ujarnya.

Menurutnya, agar  mampu mengembangkan imajinasinya,  anak-anak harus dikenalkan bacaan-bacaan jenis fiksi semenjak dini, seperti  kebanyakan jenis buku dihibahkan USAID kali ini. 

“Karya fiksi menjadi jalan pertama  pintu gerbang kecintaan anak-anak untuk membaca. Kalau sudah tertarik membaca karya-karya fiksi semacam itu,   mereka akan menyukai bacaan lainnya. Membaca fiksi adalah pancingan pertama suka membaca, dan juga mengembangkan kemampuan nalar dan imajinasinya,” ujarnya. 

Ditambahkan, seperti di negara-negara maju, sekolah harus mensupli banyak buku-buku yang bisa mengembangkan nalar dan imajinasi anak-anak.

“Negara-negara maju di dunia ini, kaum mudanya adalah kaum muda pembaca fiksi,” ujarnya lebih lanjut.

Selain bantuan buku, agar budaya baca terintegrasi di sekolah, USAID PRIORITAS terus mendorong agar sekolah-sekolah yang telah dijadikan mitra USAID  menerapkan strategi-strategi gemar membaca. Di antara program yang dilakukan yaitu dengan mendorong sekolah menyediakan sudut baca di sekolah,  mengadakan tambahan jam khusus untuk membaca, memberikan hadiah bagi anak yang suka membaca  dan lain-lain.

“Ini sejalan dengan perintah al Qur’an yang pertama kali turun ke Nabi, yaitu membaca. Jadi budaya membaca adalah budaya agamis yang sangat urgen dikembangkan di Indonesia, agar kita tidak ketinggalan dengan negara lain,” ujar Communication Specialist USAID PRIORITAS, Mustajib.

Anak-anak di SD yang menerima bantuan buku sangat senang dengan bacaan-bacaan yang diterimanya. Di SDN Gunung sari 1 Makasssar, di sudut baca yang baru dibangun, anak-anak nampak antusias melalap buku-buku cerita dan komik yang dipajang.

Bantuan hibah buku ini merupakan bagian dari program peningkatan kualitas pendidikan senilai US$83,7 juta  untuk 8 provinsi di Indonesia, yaitu  Aceh, Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua. 

Sumber : USAID Prioritas
Editor : Redaksi