Virus Radikalisme Mewabah Dikalangan Pemuda

Oleh : Rahmat Setiawan (Ketua PMII Kabupaten Barru)

Virus radikalisme kini mewabah Mahasiswa atau anak muda yang baru saja lulus dari bangku SMU. karena paham-paham radikalisme memilih dunia maya sebagai sarana untuk menyebarkan pemikiran dan pesan mereka.

Mengapa mereka tidak menggunakan media-media konvensional seperti televisi, radio atau koran? Jawabannya harus dirunut pada tiga faktor utama dunia maya. Pertama, kemudahan akses dan publikasinya tanpa memerlukan ijin dari pemerintah, dan yang pasti secara cuma-cuma. Kedua, sebagian besar audien paham radikal adalah pemuda yang selalu aktif di dunia maya, di mana hal ini memudahkan penyebaran pesan dengan sangat cepat. Adapun faktor ketiga adalah lemahnya kontrol pemerintah terhadap dunia maya.

Kelompok-kelompok radikal menggunakan beragam situs terkemuka seperti YouTube, Twitter dan Facebook untuk tujuan-tujuan seperti penyebaran pemikiran, dorongan, perekrutan dan berbagi informasi. Pusat Riset Strategi Regional di Kairo, dalam sebuah artikel, pernah membahas fenomena ini dan menyebut bahwa ada sebuah kelompok radikal di Suriah memanfaatkan jejaring sosial dalam menjalankan aksi radikalnya, di mana tidak lain dan bukan adalah ISIS.

Berkat kemajuan teknologi informasi, komunikasi dan internet, sekarang kelompok-kelompok radikal dengan mudah dan sedikit dana mampu menyebarkan rekaman video di internet dengan kualitas tinggi seperti tayangan televisi berkelas dunia. Kemudian video tersebut disaksikan jutaan orang melalui saluran YouTube. Internet telah menjadi panggung perluasan dan penyebaran pemikiran kelompok-kelompok radikal serta menjadi corong propaganda untuk mengajak para pemuda berperang bersama kelompok-kelompok itu dan melancarkan teror di tempat-tempat yang bahkan para pemimpinnya mungkin tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sana.

Perlu perhatian mendalam terhadap internet dalam perannya memfasilitasi radikalisme, baik dalam lingkup makro bagi pengambil kebijakan kontra radikal maupun bagi masyarakat dalam lingkup mikro guna melindungi diri dari bahaya situs-situs terkait. Hal ini dikarenakan dihadapkan pada kemasifan jumlah informasi situs yang overload yang mengakibatkan sulit memperoleh gambaran komprehensif secara efektif dan efisien mengenai aktivitas teroris.

Langkah yang perlu juga dilakukan negara diantaranya:

Pertama; mengupayakan eksistensi pendidikan Islam yang toleran dan moderat yang mengembangkan pemikiriran Islam rahmatan lil’alamin. Penyimpangan dan pemikiran radikalisme dalam memaknai Al-Qur’an dan Al-Hadist harus kita harus imbangi pemikiran dengan harakah pemikirian dan tafsir yang sejalan dengan nilai-nilai luhur ajaran Agama Islam. Ideologi dan theologi kekerasan harus kita lawan dengan ideologi dan theologi yang cinta damai yang sesuai jiwa bangsa Indonesia.

Kedua; Penindakan, artinya memang harus ada ketegasan dari pihak pemerintah untuk menindak pada kelompok-kelompok teroris dan radikalis, termasuk golongan yang anti NKRI dan Pancasila.

Penanaman wawasan keagamaan yang terintegritasi dengan wawasan kebangsaan. Harus diakui wawasan keagamaan pemuda selama ini lebih banyak tercerai beraikan dari wawasan kebangsaan. Hal ini perlu partisipasi dari para pemerintah, tokoh agama masyarakat. Dengan langkah-langkah diatas, setidaknya akan menimalisir dan mencegah keterlibatan pemuda dalam gerakan radikalisme dan terorisme seperti ISIS. Sehingga pemberantasan dan pembasmian radikalisme agama dan terorisme di Indonesia bisa ditanggulangi atau diantisipasi sejak dini. (red)