Warga Harap Pasar Malam Minggu Tetap di Padduppa

Wajo, MC – Renovasi pelataran pinggir sungai padduppa yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Wajo rupanya menuai kesedihan bagi beberapa orang warga dilingkungan tersebut.

Kesedihan itu karena pasar malam minggu yang sebelum-nya berlokasi di-pelataran pinggir sungai padduppa di-pindah. Pemindahan pasar pakaian bekas (cakar) tersebut di-nilai menutup sumber mata pencaharian beberapa orang warga yang kebetulan terlibat dalam aktifitas pasar malam minggu ini.

Hal itu diungkap oleh salah seorang warga, Abd Malik, beberapa hari lalu. Menurut-nya, pemindahan pasar malam minggu yang tadi-nya berlokasi dipelataran sungai mengakibatkan aktifitas warga yang aktif menarik jasa parkiran, sewa tempat dan jasa kebersihan dari pengunjung dan penjual cakar ini vakum.

Saat ini, kata Malik, warga yang tadi-nya aktif kini kelihatan lesu sejak pekerjaan renovasi dan pasar malam itu di-pindah.

Menurut Malik, hal itu tentu menjadi permasalahan lain bagi warga dan pemerintah karena menyangkut pendapatan masyarakat. Warga setempat berharap pemerintah bijak dan mengembalikan pasar malam di Padduppa ataukah punya format lain agar warga yang tadi-nya mengandalkan pasar malam sebagai sumber rejeki bisa beroperasi kembali.

“Kalau tidak bisa dipelataran, dijalan juga bisa, toh selama ini, aktifitas malam minggu tersebut dilaksanakan disepanjang jalan kawasan tersebut. Terlebih, aktifitas pasar ini hanya sekali dalam seminggu. Soal renovasi pelataran, dirasa masyarakat setempat juga bisa berpartisipasi menjaga agar aset pemerintah tersebut tetap terjaga,” pungkas Malik.

Sebenar-nya, lanjut Malik, aktifitas berupa penarikan jasa parkir, sewa tempat dan jasa kebersihan di-pasar malam minggu tersebut dikelola secara berkelompok.

Namun, belakangan lembaga tersebut tidak maksimal. Bahkan bila berbicara kontribusi, aktifitas warga ini dapat dikata tidak terkait dengan pemerintah.

“Oleh itu, masalah pasar malam minggu kaitan-nya aktifitas warga mencari rejeki harus dicari-kan solusi. Apakah pengelolaan retribusi tersebut dilembaga-kan ataukah ada metode lain agar bisa berkesinambungan,” pungkas Malik. (aci)