Warga Pelosok Belum Nikmati Listrik, Ini Jawaban Camat Keera

sdc10376-0011 Camat Keera, A Pameneri

Wajo, MC – Keterbatasan jangkauan aliran listrik seperti yang diungkap oleh Legislator DPRD Wajo, Hj Hasnawati HS (klik disini) dibenarkan oleh Camat Keera, A Pameneri.

Melalui keterangan pers-nya, Camat yang akrab disapa A Pamme’ ini mengaku bahwa beberapa desa didaerahnya, khususnya yang jaraknya jauh dari ibukota kecamatan hingga kini belum bisa menikmati aliran listrik.

Namun demikian, kata Pamme’, daerah-daerah yang belum terjangkau tersebut terus diupayakan agar aliran listrik bisa tembus. Sementara ini perintisan jaringan dilakukan pekerjaannya oleh pihak terkait dalam hal ini Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Betul, beberapa desa di Kecamatan Keera masih belum menikmati aliran listrik, namun tetap diusahakan karena pihak PLN hingga kini masih melakukan pekerjaan. Kecuali daerah yang potensi jumlah pengguna-nya kurang, itu diupayakan agar bisa menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, kami sudah mengajukan proposal kepada instansi terkait (Dinas PSDA Wajo) untuk mendapat bantuan pembangkit listrik tenaga surya,” ujar Pamme melalui via ponsel-nya, Senin (8/2).

Lanjut diterangkan bahwa untuk distribusi pupuk, pemerintah telah mencarikan jalan keluar pada tahun 2015 lalu. Hanya saja, karena keterbatasan jumlah distributor dalam satu wilayah menjadi kendala sehingga distribusi pupuk ini sering mengalami keterlambatan.

Misalkan saja, di desa paojepe dan sekitarnya, dikawasan itu tidak tersedia distributor, sehingga untuk mendapat pupuk petani harus berkomunikasi langsung dengan distributor yang berada di ibukota kecamatan.

“Tentu jarak yang ada menjadi kendala bagi distributor dan petani sendiri, karena memang tidak setiap desa ada distributor pupuk-nya. Belum lagi untuk pemasaran pupuk itu harus dimodali lebih dulu oleh distributor sehingga tentu ada kendala dalam pendistribusian dan pemasaran pupuk ini sendiri kepada petani,” terang Pamme’.

Ketika ditanya kendala lain yang dihadapi, Camat Keera menitik beratkan permasalahan utama yang dihadapi masyarakat-nya adalah masih belum tuntasnya beberapa ruas jalan serta rusaknya saluran tersier dari jaringan irigasi Awo.

“Untuk beberapa ruas jalan, itu harus menggunakan anggaran dari pemerintah daerah. Kami sudah menyarankan pemerintah desa agar menganggarkan melalui Dana Desa (DD), namun terkendala karena anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalan tersebut masih terlalu banyak. Begitupula dengan saluran tersier irigasi Awo hingga kini banyak yang retak sehingga beberapa desa yang mengandalkan saluran irigasi ini alami kendala untuk mengairi lahan persawahannya. Kami berharap kepada pemerintah daerah, khususnya dinas terkait untuk menindaklanjuti permasalahan ini,” harap Pamme’. (aci)